Bantuan Pangan Disalurkan di Timor Tengah Selatan
Jagad Tani - Penyaluran 4.000 paket bantuan pangan berlangsung pada 2–4 November 2026 kepada masyarakat miskin yang masuk kelompok desil 1 dan 2 di 13 desa rentan rawan pangan di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur.
Berdasarkan Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan (FSVA) Tahun 2025, terdapat 81 kabupaten/kota atau 15,76% dari total kabupaten/kota di Indonesia yang masuk kategori rentan rawan pangan, dan di Nusa Tenggara Timur ada 18 kabupaten atau kota masuk kategori tersebut.
Baca juga: Buah-Buahan Lokal yang Sudah Jarang Ditemukan Keberadaannya
Deputi Bidang Kerawanan Pangan dan Gizi Badan Pangan Nasional (Bapanas) Aulia Sofyan mengatakan, wilayah NTT dan Papua jadi perhatian penanganan rawan pangan, karena tantangan geografis dan kondisi lingkungan memengaruhi ketersediaan serta akses masyarakat terhadap pangan.
“Daerah rawan pangan yang selama ini kami survei paling banyak berada di Papua dan NTT. Karena itu, kita berupaya agar ada penanganan khusus dengan fokus pada wilayah NTT dan Papua,” jelas Aulia di Desa Kiufatu, Kecamatan Kualin, Kabupaten Timor Tengah Selatan, dikutip Sabtu (7/11).
Ditambahkan, penguatan ketahanan pangan daerah perlu ditopang oleh ketersediaan cadangan pangan. Meskipun daerah menghadapi keterbatasan anggaran dan harus membagi alokasi belanja untuk berbagai kebutuhan, cadangan pangan tetap perlu menjadi salah satu prioritas.
Kegiatan ini mengacu pada Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan, Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2015 tentang Ketahanan Pangan dan Gizi, serta Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 19 Tahun 2023 tentang Kesiapsiagaan Krisis Pangan.
Sementara itu, Direktur Pengendalian Kerawanan Pangan Bapanas, Rachmad Firdaus menjelaskan, Kabupaten TTS menjadi salah satu wilayah prioritas pelaksanaan berdasarkan hasil kajian kerawanan pangan pada Juli 2026.
“Untuk penyaluran bantuan, pada hari pertama ini kami sudah menjangkau enam desa di Kecamatan Kualin dengan sasaran 2.273 kepala keluarga. Hingga saat ini, realisasinya mencapai 77,17 persen dari sasaran hari pertama atau sekitar 43,85 persen dari total 4.000 paket yang disiapkan. Penyaluran akan kami lanjutkan pada 3 hingga 4 November agar seluruh bantuan dapat tersampaikan kepada masyarakat penerima manfaat,” ujarnya.
Ditegaskan bahwa, kesiapsiagaan menghadapi krisis pangan butuh keterlibatan seluruh pemangku kepentingan. Penguatan cadangan pangan pemerintah, kerja sama antardaerah, serta partisipasi berbagai pihak menjadi bagian penting untuk mengantisipasi potensi krisis sekaligus meminimalkan dampaknya terhadap masyarakat.
“Kita berkolaborasi, bermitra untuk mengantisipasi kejadian krisis pangan, dengan penguatan cadangan pangan pemerintah, kerja sama antardaerah, dan juga mendorong partisipasi berbagai pihak termasuk Bulog, BMKG, dan masyarakat untuk sama-sama mengatasi potensi terjadinya krisis pangan dan dampaknya,” tukasnya.
Adapun paket bantuan pangan tersebut, berisi dua bungkus jagung bose dengan berat masing-masing 500 gram, 20 butir telur ayam ras, satu bungkus kacang hijau seberat 500 gram, satu liter minyak goreng kemasan, serta 10 saset susu bubuk. Dengan total 4.000 paket, bantuan tersebut mencakup 4 ton jagung bose, 80.000 butir telur ayam ras, 2 ton kacang hijau, 4.000 liter minyak goreng, dan 40.000 saset susu bubuk.

