• 6 October 2022

Nasib Persawahan di Ujung Jakarta

uploads/news/2020/10/nasib-persawahan-di-ujung-25764af9be6fcf0.jpg

Kadang kan petani jadi was-was juga mau menanam. Nanti tiba-tiba dikeruk lahannya oleh pengembang. Jadi pada pusing kan?”

JAKARTA - Provinsi DKI Jakarta dikenal sebagai kota dengan padat penduduk.

Nyaris setiap jengkal lahan di Jakarta dijadikan pemukiman dan gedung pencakar langit.

Untuk bertani padi di lahan persawahan yang luas terlihat tidak mungkin, bahkan mustahil.

Namun, siapa sangka di Kota Jakarta Utara, tepatnya di Kelurahan Rorotan, Kecamatan Cilincing, masih ada lahan sawah seluas 420 hektare.

Baca juga: Harta Hijau di Utara Jakarta

Di sana terlihat tanaman padi yang terhampar luas di lahan persawahan berwarna hijau segar, tertanam di tanah yang becek.

Dari lahan tersebut, para petani bisa memanen hingga dua kali.

Hal itu diungkapkan Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Kelurahan Rorotan, Abdul Kadir.

Kadir yang sudah bertani sejak usia 12 tahun mengatakan, dalam satu kali panen, setidaknya terkumpul 10 ton gabah kering.

Meski panen, Kadir mengaku enggan menjual langsung gabahnya.

Ia memilih untuk menahan sementara gabah selama sebulan hingga harga beras mulai naik.

Menurutnya, terdapat perbedaan saat gabah baru dipanen dibandingkan dengan menunggu harga beras naik.

Perbedaannya lumayan, kalau baru panen harga gabah hanya Rp300.000 per kuintal, sebulan kemudian bisa naik menjadi Rp450.000 per kuintal,” sebut Kadir.

Pekerjaan menjanjikan

Berkat keuletannya sebagai petani selama puluhan tahun, membuat Kadir dapat menunaikan dua kali ibadah haji dan satu kali umrah.

Jadi petani itu sebenarnya menjanjikan. Yang penting itu 'susu ultra', sungguh-sungguh, ulet, dan terampil," ujarnya.

Kadir menyebut, dari 420 hektare sawah yang ada di Kelurahan Rorotan, hanya 29 hektare yang dikuasai oleh pribadi.

Sementara sisanya, dikuasai oleh dua perusahaan, yakni PT Taman Sejahtera dan PT Nusa Kirana.

Kadir sendiri tak tahu kapan lahan akan diambil, namun ia memprediksi pertanian di wilayahnya tak akan berumur lebih dari 10 tahun lagi.

Meski demikian, ancaman terhadap lahan pertanian yang dikelola Gapoktan Rorotan tetap ada, yaitu mulai hilangnya lahan pertanian karena pendirian bangunan.

Karena itu, ia dan para petani di wilayahnya berharap kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk tetap menjadikan lahan pertanian di Kecamatan Rorotan sebagai lahan sawah abadi, sehingga budaya bertani tetap ada.

Kadang kan petani jadi was-was juga mau menanam. Nanti tiba-tiba dikeruk lahannya oleh pengembang. Jadi pada pusing kan?” keluhnya.

Baca juga: Berkebun di Bawah Kolong Tol

Selain itu, ia juga berharap Pemprov DKI Jakarta mau membeli tanah milik para pengembang dan menjadikannya sebagai sawah.

Kadir mengaku, ia pernah mengirim surat untuk mengusulkan itu, namun hingga saat ini belum ada balasan.

"Jadi, kalau saya sekarang tinggal menunggu, pertanian duluan yang selesai atau saya duluan yang selesai," ujar Kadir.

Related News