• 21 January 2026

Produksi Perikanan Budidaya Capai 5,02 Juta Ton

uploads/news/2025/12/produksi-perikanan-budi-daya-12548d54210c8a2.jpg

Jagad Tani - Berdasarkan data sementara Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) hingga triwulan ketiga tahun 2025, produksi ikan budi daya nasional mencapai 5,02 juta ton atau 96,95% dari target. Jumlah tersebut belum termasuk rumput laut yang mencapai mencapai 8,2 juta ton dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) subsektor budi daya juga melampaui target hingga lebih dari 390%.

“Di tengah pertumbuhan jumlah penduduk dan meningkatnya kebutuhan pangan bergizi, perikanan budi daya diposisikan sebagai solusi strategis yang berkelanjutan, terjangkau, dan ramah lingkungan. Pengembangan budi daya menjadi tumpuan utama dalam menjamin ketersediaan protein nasional,” ungkap Tb Haeru Rahayu selaku Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya.

Baca juga: Nelayan Terdampak Bencana Sumatra, KKP Prioritaskan Perizinannya

Sebanyak lima komoditas unggulan perikanan budi daya telah ditetapkan oleh KKP, yaitu udang, rumput laut, ikan nila (tilapia), kepiting, dan lobster. Kelima komoditas ini dipilih karena memiliki pasar yang kuat, teknologi budi daya yang semakin dikuasai, serta daya saing global. Untuk rumput laut dan nila, Indonesia termasuk produsen dunia, sementara udang menjadi komoditas ekspor bernilai tinggi.

Guna mempercepat pengembangan, ada tiga pendekatan utama yang dilakukan. Pertama, pembangunan kawasan modeling perikanan budi daya berkelanjutan sebagai percontohan end-to-end, antara lain modeling budidaya udang di Kebumen, modeling budidaya rumput laut di Wakatobi, Maluku Tenggara, dan Rote Ndao, modeling budidaya ikan nila salin di Karawang, modeling budidaya kepiting di Pasuruan, serta modeling budidaya lobster di Batam. 

Kedua, yakni revitalisasi tambak idle, khususnya di Pantai Utara Jawa. Dari sekitar 78.000 hektare tambak yang terindikasi tidak produktif, tahap awal dilakukan pada 20.000 hektare di Bekasi, Karawang, Subang, dan Indramayu untuk meningkatkan produktivitas lahan dan kesejahteraan pembudi daya.

Sedangkan yang ketiga, penguatan Kampung Perikanan Budi Daya serta melalui program budi daya tematik berbasis teknologi bioflok yang disinergikan dengan Koperasi Desa dan Kelurahan di Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur. Dalam satu unit bioflok berisi 24 kolam, potensi produksi dapat mencapai kurang lebih hampir 5 ton per siklus.

Adapun langkah lainnya yakni melalui pengembangan Kawasan Budi Daya Ikan Nila Salin (BINS) Karawang seluas 230 hektare yang telah menyerap hampir 1.000 tenaga kerja dan menjadi model revitalisasi tambak Pantura. Selain itu, pengembangkan project budi daya udang terintegrasi di Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, seluas 2.000 hektare dengan nilai investasi sekitar Rp7 triliun.

 

Related News