Tikus Putih Ciledug, Berawal dari Ketidaksengajaan
Jagad Tani - Pembudidayaan tikus putih atau mencit yang kini dikenal dengan nama Tikus Putih Ciledug bermula bukan dari rencana bisnis, melainkan dari ketidaksengajaan. Hal itu disampaikan langsung oleh Wibowo, pemilik sekaligus perintis budidaya tersebut, saat ditemui di kediamannya.
Wibowo menceritakan, awal mula semua ini terjadi pada tahun 2017, ketika anak perempuannya ingin memelihara burung hantu. Burung hantu yang dikenal sebagai hewan nokturnal itu membutuhkan pakan berupa tikus. Dari situlah Wibowo mulai membeli tikus dalam jumlah besar sebagai stok pakan.
Baca juga: Begini Cara Vietnam Kelola Peternakan Sapi Modern
“Awalnya cuma buat makan burung hantu. Sekali beli 50 ekor, seminggu beli lagi. Stok minimal dalam satu bulan itu harus ada 100 ekor supaya aman,” ujar Wibowo saat ditemui oleh tim Jagad Tani, Rabu pagi (17/12).
Namun seiring berjalannya waktu, setelah burung hantunya suda tidak ada lagi sementara sisa tikus yang tidak terpakai justru berkembang biak dengan cepat. Dari jumlah yang tersisa 13 ekor, dalam waktu satu bulan jumlahnya meningkat drastis hingga memenuhi wadah pemeliharaan. Tanpa disadari, Wibowo mulai terjun ke dunia budidaya mencit.
"Perpaduan warna yang unik, antara bulu yang berwana abu-abu, kulit kaki pink dan mata yang berwarna merah (Jagad Tani/Rahmat Iskandar Rizki)"
Karena jumlah tikus semakin banyak, Wibowo mencoba menawarkan hasil ternaknya ke kios pakan ternak dan pet shop. Awalnya banyak penolakan karena kios sudah memiliki pemasok tetap. Hingga akhirnya, salah satu kios di Pasar Lembang bersedia menerima pasokan dengan harga Rp 2.000 per ekor.
“Waktu itu stok saya sampai 400 ekor. Mulai rutin kirim seminggu 50 sampai 150 ekor,” katanya.
Dari hasil penjualan tersebut, Wibowo perlahan mengembangkan fasilitas budidaya. Ia memanfaatkan akuarium bekas, kaca sisa proyek, hingga belajar memotong kaca sendiri untuk membuat kandang. Modal utama bukan uang besar, melainkan relasi pertemanan dan ketekunan.
"Tampak koloni tikus putih sedang berkumpul (Jagad Tani/Rahmat Iskandar Rizki)"
Memasuki masa pandemi COVID-19 pada tahun 2020, usaha ini justru semakin dikenal. Anak perempuan Wibowo mempromosikan budidaya tikus putih melalui media sosial, terutama Instagram. Responsnya di luar dugaan.
“Orang datang dari berbagai daerah, bahkan tengah malam. Kadang jam 2 pagi masih ada yang ambil tikus,” ungkapnya.
Permintaan datang dari berbagai kalangan, mulai dari pemilik burung hantu dan pecinta reptil, hingga mahasiswa dan pelajar untuk keperluan praktikum laboratorium. Kampus-kampus seperti UIN Syarif Hidayatullah, IPB, hingga Universitas Pancasila tercatat pernah mengambil tikus putih dari tempatnya.
Wibowo mengaku sebagian besar ilmunya didapat dari pengalaman langsung, bukan dari buku atau tutorial semata. Ia memahami betul siklus hidup mencit, mulai dari masa kawin, kehamilan 35–40 hari, hingga potensi kanibalisme pada indukan tertentu.
“Satu jantan maksimal empat betina. Kalau ada induk yang makan anaknya, langsung saya sortir dan jual. Itu sifat,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya menghindari perkawinan sedarah (incest) karena dapat menyebabkan penyakit seperti benjolan atau tumor pada tubuh mencit.
Dalam perawatan, Wibowo sangat berhati-hati. Ia menghindari menyentuh anak mencit dengan tangan langsung karena bau manusia bisa memicu induk memakan anaknya. Pakan pun diatur agar selalu cukup, sebab kekurangan pakan bisa memicu kanibalisme.
"Tikus putih dengan belangnya serta memiliki mata yang berwana merah (Jagad Tani/Rahmat Iskandar Rizki)"
Meski harga pasaran mencit saat ini sudah mencapai Rp 8.000 per ekor, Wibowo memilih menjual dengan harga Rp 5.000 per ekor, dan Rp 15.000 untuk indukan. Baginya, usaha ini bukan semata mencari keuntungan.
“Saya nggak nganggep ini dagang. Lebih ke aktivitas, biar ada kegiatan. Yang penting jalan, orang kebagian, stok tetap ada,” ujarnya.
Kini, Tikus Putih Ciledug mulai dikenal sebagai salah satu pemasok mencit di wilayah Jabodetabek. Dari hobi yang tidak disengaja, Wibowo justru menemukan ritme hidup baru yang penuh pembelajaran.
“Dari tikus aja, saya belajar banyak soal kehidupan,” tutupnya.

