• 21 January 2026

Ngejot, Tradisi Berbagi Makanan Jelang Perayaan Natal

uploads/news/2025/12/ngejot-tradisi-berbagi-makanan-1617736871fc136.png

Jagad Tani - Di tengah keragaman agama dan budaya yang hidup berdampingan di Pulau Dewata, tradisi ngejot kembali menjadi wujud nyata toleransi dan semangat berbagi menjelang perayaan Natal bagi umat Kristen di Bali.

Secara harfiah dalam bahasa Bali, Ngejot berarti memberi. Tradisi ngejot berakar dari budaya Hindu Bali, terutama pada perayaan Galungan dan hari raya adat lainnya. Selama ini dikenal sebagai tradisi budaya di mana warga memberikan makanan kepada tetangga dan komunitas sekitar pada hari-hari besar keagamaan. Seiring berkembangnya dinamika sosial, praktik berbagi makanan ini kemudian diadopsi dan dipraktikkan pula oleh masyarakat Muslim dan Kristen saat perayaan hari besar keagamaan di Bali.

Baca juga: Tikus Putih Ciledug, Berawal dari Ketidaksengajaan

Menjelang Natal, sejumlah umat Kristiani di Bali menyiapkan makanan khas untuk dibagikan kepada tetangga, termasuk kepada warga beragama Hindu atau lainnya yang tinggal di sekitar lingkungannya.

Ngejot umumnya dilakukan menjelang Hari Natal, baik satu hari atau dua hari sebelumnya sebagai bentuk ungkapan rasa syukur dan kebahagiaan atas sukacita Natal yang dirayakan oleh umat Kristiani. 

Makanan yang dibagikan beragam, mulai dari nasi lengkap, sayuran Bali, lauk tradisional seperti ayam betutu, hingga jajanan dan kudapan khas Bali yang telah dikemas dalam wadah sebelum diantarkan dari rumah ke rumah. Para pelaku tradisi ini menyebutnya sebagai cara untuk berbagi kebahagiaan dan rezeki dengan sesama di momen perayaan Natal. 

Mengutip dari Antara, I Gusti Ngurah Darmadi tokoh masyarakat di Desa Tuka, Dalung, Kabupaten Badung, tradisi ngejot saat Natal dijaga sebagai bagian dari warisan budaya yang telah dijalankan turun-temurun sejak masa awal masuknya Kristen di Bali pada tahun 1937. Menurutnya prosesi penampahan (menyiapkan menu makanan) dalam tradisi ngejot saat Natal tidak berbeda dengan perayaan hari besar lainnya, seperti Hari Raya Galungan

Tradisi ini menjadi simbol toleransi antarumat beragama dan kekompakan sosial di tengah masyarakat yang heterogen. Umat kristiani menyambut ucapan selamat dan memberi makanan kepada umat Hindu serta berbalas silaturahmi dalam suasana damai. Perayaan Natal pun menjadi ajang untuk memperkuat hubungan sosial lintas agama.

Hal ini tentu memberikan pelajaran penting tentang budaya saling menghormati, menghargai perbedaan, dan berbagi kasih saat menyambut hari besar keagamaan. Dengan demikian, ngejot menjadi warisan sosial budaya yang memperkuat menyama braya yakni prinsip persaudaraan dalam kehidupan masyarakat Bali yang plural dan majemuk. 

Related News