Jagad Tani - Di balik pengakuan internasional terhadap kucing Busok sebagai ras asli Indonesia, tersimpan perjalanan panjang yang melibatkan sains, budaya, dan masyarakat. Kucing khas Madura ini bukan hanya hasil seleksi alam, tetapi juga simbol keterjagaan warisan hayati yang telah berlangsung selama berabad-abad dan kucing ini memiliki beragam penyebutan, seperti kucing Busok, kucing Raas serta kucing Madura.
Dikutip dari VOA Slamet Raharjo, dosen Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (FKH UGM) sekaligus mantan pengurus Indonesian Cat Association (ICA), menyebutkan bahwa upaya agar kucing Busok diakui sebagai ras kucing Indonesia sebenarnya telah dimulai sejak tahun 2008. Namun, proses tersebut tidak berjalan mulus.
Baca juga: Pulau Sapudi, Lumbung Sapi dan Tradisi Karapan
“ICA terkendala dengan data genetik. Secara fisik (Busok) sudah OK, namun pada saat itu data genetiknya belum ada yang mencatat. ICA akhirnya melalui pengurusnya meminta beberapa ekor untuk dijadikan indukan kucing itu. Dari indukan-indukan yang dikawinkan itu, kita merekam data secara benar sehingga bisa diketahui karakter fisik dan genetiknya. Akhirnya, syarat pengajuan terpenuhi dan disetujui,” ujar Slamet.
Untuk memenuhi persyaratan pengajuan ke World Cat Federation (WFC) agar diakui secara internasional, ICA kemudian mengumpulkan sejumlah kucing Busok untuk dijadikan indukan. Dari hasil perkawinan tersebut, karakter fisik dan genetiknya direkam secara sistematis hingga akhirnya pengakuan resmi dapat diperoleh.
Kucing Busok dikenal sebagai kucing khas Madura karena asal-usulnya yang unik. Kucing ini berasal dari Pulau Raas, Kabupaten Sumenep, sebuah pulau kecil yang termasuk dalam wilayah Kepulauan Madura dan hanya dapat diakses melalui jalur laut. Isolasi geografis pulau tersebut berperan besar dalam menjaga kemurnian ras Busok.
Selain faktor alam, kepercayaan masyarakat setempat juga menjadi benteng perlindungan. Warga Pulau Raas secara turun-temurun melarang Busok dibawa keluar pulau.
Mereka meyakini bahwa kapal yang mencoba menyelundupkan kucing ini akan mengalami celaka di laut. Kepercayaan tersebut secara tidak langsung membuat ras Busok terjaga dari persilangan dengan kucing lain.
“Dengan kondisi pulau yang kecil, tidak boleh ada kucing yang keluar dan tidak boleh ada kucing yang masuk. Seleksi genetik terjadi secara natural. Inbreeding atau perkawinan sedarah sering terjadi sehingga menghasilkan karakteristik yang seragam,” sambung Slamet.
Kondisi ini membuat Busok menjadi homogen, baik secara fisik (fenotipe) maupun genetik (genotipe). Secara fisik, Busok memiliki ciri yang mudah dikenali. Warna bulunya didominasi rona abu-abu kebiruan yang mengingatkan pada kucing Russian Blue atau British Shorthair, serta warna krem kecokelatan.
Warna bulu tersebut kontras dengan mata Busok yang berwarna hijau atau biru terang. Tekstur bulunya lebih tebal dibandingkan kucing domestik lain di Indonesia, sementara ekornya pendek menyerupai pom-pom dan dapat berdiri tegak.

