• 21 January 2026

Pulau Sapudi, Lumbung Sapi dan Tradisi Karapan

uploads/news/2025/12/pulau-sapudi-lumbung-sapi-93954a28c8f2d64.jpg

Jagad Tani - Karapan sapi masih menjadi denyut budaya sekaligus penggerak ekonomi masyarakat Pulau Sapudi, Kabupaten Sumenep. Biasanya tradisi ini tidak digelar pada akhir tahun, sebab puncak aktivitasnya terjadi pada rentang bulan Agustus hingga Oktober, saat latihan dan seleksi tingkat kecamatan berlangsung. 

Hal tersebut disampaikan oleh M. Fadlil Hidayatullah, warga Kecamatan Gayam, Pulau Sapudi, yang menjelaskan bahwa ajang karapan sapi di tingkat lokal berfungsi sebagai seleksi awal. Sapi-sapi terbaik kemudian dikirim untuk berlaga di tingkat kabupaten Sumenep, sebelum memasuki babak final yang umumnya digelar di Bangkalan atau Pamekasan.

Baca juga: Tikus Putih Ciledug, Berawal dari Ketidaksengajaan

“Biasanya yang besar-besarnya itu finalnya di Bangkalan atau Pamekasan. Nantinya sapi-sapi yang ada di pulau Sapudi itu di seleksi lewat lomba-lomba yang ada di pulau ini, tapi memang sapi dari sini biasanya cukup diperhitungkan saat lomba,” ungkap Fadil saat dihubungi oleh tim Jagad Tani via Telepon, Rabu siang (24/12).

Dalam perlombaan karapan sapi, sapi tidak dinilai berdasarkan jenis ras tertentu, melainkan dari postur tubuh, tinggi, keseimbangan pasangan, serta kecepatan lari. Setiap sapi dipasangkan secara cermat agar seimbang, menyerupai sistem pertandingan singkat satu putaran, layaknya pertandingan futsal.

Adapun perawatan sapi untuk karapan, dinilai jauh berbeda jika dibandingkan dengan sapi ternak biasa. Sapi karapan tidak sembarangan diberi pakan rumput. Peternak memilih pakan khusus, bahkan secara berkala memberikan jamu tradisional untuk menjaga stamina dan kesehatan sapi.

“Orang yang ternak sapi karapan itu berani keluar biaya besar, jamu saja bisa mahal,” sambung Fadil.

Nilai ekonomi sapi karapan sangat tinggi. Pada ajang-ajang besar, hadiah lomba bisa berupa sepeda motor hingga mobil. Bahkan, harga jual sapi juara dapat menembus ratusan juta hingga miliaran rupiah per pasangan. Ia mencontohkan, pada ajang bergengsi seperti Piala Presiden 2024, nilai sapi pemenang dikabarkan mencapai lebih dari Rp 2 miliar untuk satu pasang sapi.

Namun di balik prestasi dan nilai ekonomi yang fantastis, risiko tetap mengintai. Fadil mengungkapkan bahwa profesi joki sapi sangat berbahaya. Ia bahkan pernah kenal dengan seorang joki yang meninggal dunia akibat terjatuh dan terbentur saat perlombaan.

Secara geografis, Pulau Sapudi memiliki dua kecamatan, yakni Gayam dan Nonggunung. Aktivitas peternakan sapi paling masif berada di Kecamatan Gayam, yang juga menjadi pusat pasar sapi, seperti Pasar Sapi (Rabuan). Lapangan karapan sapi terdapat di kedua kecamatan, termasuk lapangan di Nonggunung yang berada di kawasan pesisir.

Selain peternakan, masyarakat Pulau Sapudi menggantungkan hidup pada sektor pertanian dan perikanan. Sawah, singkong, serta hasil laut menjadi penopang ekonomi harian. Namun kondisi alam yang relatif kering membuat peternak kerap menghadapi kesulitan pakan, terutama saat musim kemarau. Dalam kondisi ekstrem, rumput pun bisa diperjualbelikan dengan harga tinggi, bahkan didatangkan dari pulau lain seperti Raas.

Pulau Sapudi sendiri memiliki sejarah panjang dalam dunia peternakan sapi dan telah dikenal luas sebagai salah satu lumbung sapi karapan yang berkualitas. Dahulu, julukan Pulau Sapi justru melekat pada Kepulauan Kangean. Seiring perubahan pola ternak dan perdagangan, pusat populasi sapi kini bergeser ke Sapudi, sementara Kangean lebih dikenal sebagai Pulau Kerbau.

Baca juga: Menumbuhkan Harapan dari Tangan-Tangan Istimewa

Hingga kini, ratusan ekor sapi keluar masuk Pulau Sapudi setiap pekan untuk perdagangan lintas pulau, termasuk ke Jawa. Sapi-sapi tersebut tidak hanya untuk konsumsi, tetapi juga menjadi bahan baku industri kulit yang produknya bahkan menembus pasar ekspor.

“Setiap minggu ratusan sapi keluar pulau, tapi tetap tidak habis-habis,” tukas pemuda yang juga merupakan seorang alumni dari Program Studi (Prodi) Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini.

Di tengah keterbatasan infrastruktur dan tantangan lingkungan, Pulau Sapudi tetap bertahan sebagai episentrum peternakan sapi Madura. Karapan sapi bukan sekadar lomba, melainkan simbol identitas, kebanggaan, dan denyut ekonomi masyarakat pulau di ujung timur Madura itu.

Related News