Menumbuhkan Harapan dari Tangan-Tangan Istimewa
Jagad Tani - Di tengah padatnya kawasan Danau Sunter, Jakarta Utara, terdapat sebuah ruang hijau yang hidup, bukan hanya oleh tanaman, tetapi juga oleh harapan. Ruang itu bernama Lovely Hands, sebuah komunitas yang berdiri sejak tahun 2011 setia melayani anak-anak berkebutuhan khusus dari keluarga pra-sejahtera lintas agama.
Lovely Hands lahir dari komitmen kemanusiaan. Komunitas ini didirikan oleh sepasang suami istri bersama pastor paroki saat itu, dengan satu tujuan utama yakni memberikan ruang belajar, tumbuh, dan berdaya bagi anak-anak berkebutuhan khusus yang belum mendapatkan kesempatan.
Baca juga: Sulap Lahan Bekas TPS Jadi Urban Farming
“Dari awal, kami memang ditujukan untuk anak-anak berkebutuhan khusus dari keluarga pra-sejahtera dan kami melayani lintas agama,” ujar Maria Lanneke Alexander, Ketua Komunitas Lovely Hands Paroki Danau Sunter, Gereja Santo Yohanes Bosco.
Kini, memasuki usia ke-14 pada November tahun ini, Lovely Hands melayani 81 anak dengan dukungan sekitar 19 staf dan pendamping yang merupakan karyawan gereja, serta 25 relawan yang dengan sukarela membaktikan diri tanpa bayaran. Maria sendiri adalah salah satu relawan tersebut.
Pelayanan Lovely Hands dilakukan di dua lokasi. Pertama, di Gereja Santo Yohanes Bosco, tempat anak-anak memulai proses pembelajaran dasar, mulai dari motorik, sensorik, hingga kemandirian sederhana. Kedua, di Wisma Salesian Don Bosco, yang dikenal sebagai Lovely Garden, sebuah ruang pembelajaran lanjutan berbasis urban farming.
Lovely Garden bukan sekadar kebun. Di lahan yang cukup luas untuk ukuran perkotaan itu, anak-anak belajar menanam, merawat, hingga memanen berbagai tanaman mulai dari sayur, buah, hingga tanaman obat. Sistem yang diterapkan sepenuhnya organik dan hidroponik, tanpa pupuk kimia. Anak-anak bahkan diajarkan membuat kompos dan ekoenzim dari sisa dapur.
“Semua anak harus melalui proses. Dari pengenalan, menanam bibit, merawat, memanen, sampai mengolah hasilnya,” jelas Maria.
Hasil panen kemudian digunakan sebagai bagian dari program tataboga, tempat anak-anak belajar mengolah makanan sederhana seperti ongol-ongol. Meski menghasilkan banyak produk, Lovely Garden tidak dijalankan untuk mencari keuntungan.
Selain itu, hasil kebun biasanya dibagikan kepada para donatur dan masyarakat sekitar sebagai bentuk terima kasih atas dukungan yang selama ini menghidupkan Lovely Hands.
“Tempat ini bukan untuk profit. Ini tempat untuk anak-anak berproses," terangnya.
Baca juga: Perjuangan Tisno Mengolah Limbah Cangkang Kerang Hijau
Namun, tidak semua anak langsung masuk ke Lovely Garden. Ada syarat yang harus dipenuhi. Anak harus berasal dari keluarga pra-sejahtera dan dibawa sejak usia maksimal sembilan tahun.
“Kami mengejar masa emas. Anak-anak yang dilatih sejak kecil perkembangannya jauh lebih baik,” kata Maria.
Di Lovely Hands, pertanian merupakan salah satu metode pembelajaran. Sebab anak-anak tersebut juga difasilitasi untuk melukis, menyanyi, menari, hingga membuat karya kreatif lainnya. Bagi Maria dan tim, setiap anak memiliki potensi bahkan sering kali lebih besar dari yang dibayangkan masyarakat.
“Kami percaya mereka setara dengan kita. Mereka hanya punya kemampuan yang berbeda. Bahkan, mereka sering lebih disiplin dan punya hati yang tulus,” tutur Maria.
Menurutnya, yang paling sering hilang bukanlah kemampuan, melainkan kesempatan. Melalui berkebun, anak-anak tidak hanya mengasah keterampilan, tetapi juga mental dan kesehatan. Paparan sinar matahari, udara segar, dan aktivitas fisik membantu mereka tumbuh lebih sehat dan percaya diri. Di kebun itu pula, anak-anak belajar mengambil keputusan, menyelesaikan masalah, dan bekerja sama. Sehingga nantinya mereka mampu hidup dengan mandiri.
"Kami bersyukur dipilih untuk melakukan karya ini. Ini bukan sekadar pelayanan, tapi karya kemanusiaan yang mengajarkan kami untuk mencintai sesama,” pungkas Maria.

