• 20 January 2026

Sidat, Ikan Unik Hidup di Tiga Ekosistem

uploads/news/2026/01/sidat-ikan-unik-hidup-2504112035582bf.jpg

Jagad Tani - Ikan sidat menjadi salah satu spesies perikanan yang mendapat perhatian serius dari kalangan peneliti karena siklus hidupnya yang unik serta kandungan gizinya yang sangat tinggi.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Gadis Sri Haryani, mengungkapkan bahwa ikan sidat mampu hidup dan bermigrasi melalui tiga ekosistem berbeda, yakni laut, estuari, dan perairan tawar.

Baca juga: Pendapat Ahli Soal Aman Tidaknya Makanan Bakar

Selain keunikan biologinya, sidat juga memiliki keunggulan dari sisi nutrisi. Menurut Gadis, dibandingkan ikan salmon dan gabus, ikan sidat memiliki kandungan omega-3 tertinggi, khususnya DHA (docosahexaenoic acid) dan EPA (eicosapentaenoic acid). Sidat juga kaya akan vitamin A, vitamin B kompleks, zat besi, protein, kalori, serta fosfor.

“Selama ini kita selalu mengira salmon yang paling tinggi, ternyata sidat justru memiliki nilai gizi tertinggi,” ujar Gadis dikutip dari laman resmi BRIN, Minggu malam (04/01).

DHA diketahui berperan penting dalam perkembangan dan fungsi otak, sementara EPA membantu mengurangi peradangan serta menjaga kesehatan jantung. Kandungan gizi ini menjadikan sidat sebagai komoditas perikanan bernilai strategis, baik dari sisi kesehatan maupun ekonomi.

Gadis menjelaskan, ikan sidat termasuk organisme dengan biologi kritis karena memiliki siklus hidup katadromus, yakni bermigrasi dari air tawar ke laut untuk memijah.

“Katadromus artinya sidat bertelur dan menetas di laut, kemudian menjadi larva unik yang disebut leptocephalus. Bentuknya pipih, transparan seperti daun, dan belum memiliki kemampuan berenang,” jelasnya.

Larva tersebut kemudian terbawa arus dari laut dalam menuju wilayah estuari atau muara sungai. Di kawasan peralihan antara air laut dan air tawar itu, larva sidat berubah menjadi glass eel atau sidat kaca. Selanjutnya, sidat bermigrasi ke perairan tawar untuk tumbuh hingga dewasa.

Ketergantungan sidat pada tiga ekosistem berbeda menjadikan siklus hidupnya sangat rentan terhadap berbagai ancaman, mulai dari perubahan lingkungan muara, gangguan jalur migrasi, hingga eksploitasi berlebih.

Menurut Gadis, tata kelola ekologi harus menjadi fondasi utama dalam hilirisasi industri sidat. Tata kelola ini mencakup penerapan rencana aksi nasional, konservasi berbasis bukti ilmiah, serta perlindungan struktur dan fungsi alami ekosistem perairan.

“Transformasi dari pengekspor bahan mentah menjadi produsen bernilai tinggi harus dilakukan melalui budidaya domestik dan pengembangan industri pengolahan sidat,” ujarnya.

Dengan pengelolaan yang tepat, ketahanan ekologi dapat tercapai melalui terjaganya populasi sidat dan kesehatan ekosistem. Di sisi lain, ketahanan ekonomi dapat diwujudkan melalui industri sidat bernilai tinggi yang stabil dan kompetitif di pasar global.

“Pada akhirnya, pemanfaatan sidat yang bertanggung jawab akan menciptakan nilai tambah sekaligus menjaga kelestarian laut dan perairan tawar Indonesia sebagai fondasi masa depan bangsa,” tutup Gadis.

Related News