• 21 January 2026

Harga Tak Stabil, Nilam Mentawai Kian Ditinggalkan

uploads/news/2026/01/harga-tak-stabil-nilam-44520187883c379.jpeg

Jagad Tani - Komoditas nilam yang pernah menjadi andalan masyarakat Pulau Siberut, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat, kini mulai ditinggalkan petani. Penyebab utamanya adalah harga minyak nilam yang tidak stabil dan dinilai tidak sebanding dengan ongkos produksi serta waktu tanam yang panjang.

Fernando Samaloisa, salah seorang warga Pulau Siberut, mengatakan harga minyak nilam kerap berfluktuasi tajam. Dalam kondisi tertentu, harga minyak nilam bisa menyentuh Rp 2 juta per kilogram, namun dalam waktu singkat dapat anjlok hingga Rp 700 ribu per kilogram.

Baca juga: Tren Jajanan Sehat Warnai Sudut Jabodetabek

“Harga nilam itu nggak bisa ditebak. Kadang naik tinggi, tapi cuma sebentar. Dua atau tiga minggu kemudian bisa langsung jatuh,” ujar Fernando saat dihubungi oleh tim Jagad Tani via telepon, Selasa sore (06/01).

Menurut Fernando, budidaya nilam di Mentawai masih dilakukan secara tradisional tanpa pupuk. Tanaman nilam membutuhkan waktu sekitar enam bulan sejak tanam hingga panen. Setelah dipanen, daun nilam harus dikeringkan dengan sinar matahari langsung, kemudian dicincang dan disuling secara manual untuk menghasilkan minyak atsiri.

“Dari daun nilam itu disuling, nanti keluar minyak, tapi belum bersih. Masih harus dipisahkan lagi sampai benar-benar jadi minyak murni yang bisa dijual,” jelasnya.

Ia menambahkan, produktivitas nilam relatif rendah. Dari lahan sekitar 200 x 500 meter, petani rata-rata hanya menghasilkan sekitar satu kilogram minyak nilam. Kondisi ini membuat petani rentan merugi saat harga jatuh.

“Kalau dapat satu kilo tapi harganya cuma Rp700 ribu, jelas nggak nutup. Kita sudah nunggu enam bulan, belum tenaga dan biaya produksi,” katanya.

Selain harga, kendala lain adalah keterbatasan diversifikasi produk. Berbeda dengan komoditas pangan seperti bawang atau pisang yang bisa diolah menjadi berbagai produk turunan, nilam hanya bisa diolah menjadi minyak atsiri.

“Nilam itu nggak ada pilihan lain. Harus jadi minyak. Kalau ditahan daunnya, minyaknya malah berkurang dan kualitasnya turun,” ungkap Fernando.

Kondisi ini mendorong petani Mentawai beralih ke komoditas lain yang dinilai lebih aman secara ekonomi. Saat ini, banyak warga mulai fokus pada tanaman pinang, kelapa, dan cengkeh, meskipun sebagian di antaranya bersifat musiman dan membutuhkan waktu panen yang lebih lama.

“Dulu nilam sempat jadi komoditas unggulan di Mentawai. Tapi karena harganya nggak stabil, orang beralih ke cokelat, lalu sekarang ke pinang dan kelapa,” tuturnya.

Fernando menyebut, pola bertani masyarakat Mentawai umumnya tidak terpaku pada satu komoditas. Petani menanam berbagai jenis tanaman dalam satu lahan dan akan memanen komoditas yang sedang memiliki harga terbaik di pasaran.

“Kalau nilam lagi tinggi, kita olah nilam. Kalau kelapa lagi bagus, kita bikin kopra. Jadi petani di Mentawai itu menyesuaikan dengan harga,” pungkasnya.

Related News