Nilai Tukar Petani NTB Terus Melonjak
Jagad Tani - Pada tahun 2024, Nilai Tukar Petani (NTP) di Nusa Tenggara Barat (NTB) sebesar 123 atau setara keuntungan 23%, dan meningkat menjadi 128 pada tahun 2025, serta diproyeksikan akan mencapai 131 pada tahun 2026.
NTP merupakan salah satu indikator yang berguna untuk mengukur tingkat kesejahteraan petani dan kemampuan mereka membeli barang atau jasa untuk produksi dan konsumsi. Jika NTP di atas 100, maka daya beli petani meningkat (pendapatan lebih tinggi dari pengeluaran), sedangkan NTP kurang dari 100 maka daya beli petani menurun (pengeluaran lebih tinggi dari pendapatan).
Baca juga: Naik 203%, Segini Stok Beras Awal Tahun
Berdasarkan data Kerangka Sampel Area (KSA) tahun 2025, produksi padi di NTB mencapai 1,69 juta ton gabah kering giling (GKB) atau setara 965.644 ton beras, dan mengalami peningkatan sebesar 16,65% jika dibandingkan dengan capaian tahun 2024.
Menurut Lalu Muhamad Iqbal selaku Gubernur NTB, peningkatan ini terjadi karena turunnya biaya produksi, kelancaran irigasi, ketersediaan pupuk serta optimalisasi lahan pertanian yang mencapai 10 ribu hektare pada tahun 2024 dan akan diperluas menjadi 14 ribu hektare.
“Biaya makin turun, air mengalir lancar, pupuk tersedia. Petani tidak lagi terbebani. Ini hasil nyata dari instruksi Presiden Prabowo agar petani untung”, ujar Iqbal dalam keterangannya, pada Rabu (07/01).
Sementara itu, Nilai Tukar Petani (NTP) nasional yang pada Desember 2025 mencapai 125,35 dan terjadi kenaikan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah dari Rp5.500 menjadi Rp6.500 per kilogram, dengan produksi beras nasional mencapai 34,71 juta ton.
Adapun Selamet Haryadi, Kepala Desa di Desa Banyu Urip yang merupakan salah satu kawasan penghasil padi di Kecamatan Gerung, Lombok Barat menegaskan bahwa keberlanjutan pertanian sangat bergantung pada pengelolaan irigasi.
Menurutnya, produktivitas sawah hanya dapat terjaga jika distribusi air berjalan optimal, baik melalui perbaikan saluran lama maupun pembangunan jaringan baru.
“Air adalah nyawa petani. Selama irigasi terjaga, sawah tetap produktif dan petani bisa bertahan”, sambung Selamet Haryadi.

