Lima Komoditas Pertanian Pulau Siberut Mentawai
Jagad Tani - Pulau Siberut, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, dikenal bukan hanya karena kekayaan budaya dan alamnya, tetapi juga sebagai wilayah yang menggantungkan hidup pada sektor pertanian berbasis kearifan lokal. Pola bertani masyarakat Siberut cenderung tidak monokultur, melainkan mengandalkan beberapa komoditas utama yang ditanam secara bergiliran sesuai musim dan fluktuasi harga.
Fernando Samaloisa, warga Pulau Siberut, menyebutkan setidaknya ada lima komoditas pertanian utama yang biasanya menjadi penopang ekonomi masyarakat, yakni nilam, kelapa, pinang, cengkeh, dan kakao, serta Pisang Medan yang sempat menjadi komoditas unggulan dalam beberapa tahun terakhir.
Baca juga: Guru Besar IPB Ungkap Strategi Efisiensi Pakan
Nilam: Bernilai Tinggi, Harga Tak Stabil
Nilam sempat menjadi komoditas primadona di Mentawai karena harga minyak atsirinya yang bisa mencapai Rp2 juta per kilogram. Namun, harga yang fluktuatif bahkan pernah turun hingga Rp700 ribu per kilogram, sehingga membuat banyak petani mulai meninggalkannya.
“Nilam itu panennya lama, sekitar enam bulan. Prosesnya manual, mulai dari panen daun, dijemur, dicincang, lalu disuling. Kalau harga turun, sering kali tidak sebanding dengan ongkos produksi,” ujar Fernando saat dihubungi oleh tim Jagad Tani via telepon Selasa sore (06/01).
Daun nilam (Pogostemon cablin), yang termasuk tanaman perdu berdaun aromatik, hanya bisa diolah menjadi minyak atsiri. Tidak ada produk turunan lain yang bisa dikembangkan di tingkat petani, sehingga petani sangat bergantung pada harga pasar.
Kelapa: Komoditas Paling Stabil
Di antara semua komoditas, menurut Fernando tanaman kelapa menjadi yang paling stabil di tempatnya tinggal. Hampir seluruh bagian kelapa dapat dimanfaatkan, mulai dari daging untuk kopra, batok untuk arang, hingga serabut untuk bahan olahan.
Fernando menjelaskan bahwa masyarakat Siberut mengenal dua jenis kopra, yakni kopra hitam (salai) dan kopra putih. Kopra putih memiliki nilai jual jauh lebih tinggi karena kualitas minyaknya lebih baik.
“Kopra putih bisa dua kali lipat harganya dibanding kopra hitam. Tapi prosesnya lebih rumit dan berisiko, harus belah kelapa simetris dan dijemur dalam tenda plastik dengan belerang,” jelasnya.
Pinang: Alternatif Cepat dan Fleksibel
Saat harga nilam dan kakao melemah, banyak warga beralih ke pinang. Tanaman ini dinilai lebih fleksibel karena bisa tumbuh di lahan pesisir maupun dekat perbukitan, serta dapat ditanam bersamaan dengan kelapa.
“Harga pinang memang pernah turun sampai Rp2.000 per kilo, tapi sekarang sudah kembali normal ke Rp9.000–Rp10.000,” kata Fernando.
Cengkeh dan Kakao
Cengkeh termasuk tanaman tahunan yang sudah lama dibudidayakan yang satu tahun sekali berbuah. Meski panennya musiman, komoditas ini tetap dipertahankan karena nilainya relatif tinggi ketika musim panen tiba.
Namun untuk komoditas kakao belakangan kurang diminati karena meskipun harganya stabil, tetapi seringkali terjadi serangan hama pada buahnya, sehingga sebagian petani mulai mengurangi luas tanamnya, meskipun berbuahnya sepanjang tahun tanpa mengenal musim.
"Meskipun komoditas kakao itu stabil, tapi buahnya itu sering kena hama sama seperti pisang (pisang medan), jadi kadang meskipun belum matang buah kakaonya itu sudah busuk. Kalaupun sudah matang juga hamanya ada juga, seperti tupai, monyet, dan juga ada hama yang menyerang daun-daunan, jadi ada banyak hama kakao ini," sambungnya.
Pisang Medan: Pernah Menjanjikan, Kini Terhenti
Sekitar lima tahun terakhir, pisang Medan sempat menjadi harapan baru warga Mentawai. Ukuran tandannya besar dan bernilai jual tinggi. Sayangnya, serangan hama yang belum diketahui penyebabnya membuat hampir seluruh kebun pisang gagal panen.
“Buahnya busuk sebelum matang. Satu Mentawai kena semua. Sampai sekarang belum ada solusi,” ungkap pemuda yang merupakan alumni dari Universitas PGRI Sumatra Barat di Program Studi (Prodi) Ekonomi ini.
Baca juga: Harga Beras India Tertinggi, Pasar Asia Lesu
Pola Bertani Campuran
Keunikan pertanian di Siberut terletak pada pola tanam campuran. Dalam satu lahan, petani bisa menanam nilam, kelapa, pinang, pisang, cengkeh, dan ubi jalar secara bergiliran.
“Kami tidak fokus satu komoditas. Mana yang harganya naik, itu yang diolah dulu. Setelah panen, ganti komoditas lain,” tukas Fernando.
Pola ini menurutnya menjadi strategi bertahan bagi masyarakat Siberut untuk menghadapi ketidakpastian harga dan kondisi alam, dalam menjaga keberlanjutan lahan.

