Tato Mentawai Tradisi Leluhur yang Berbahan Alami
Jagad Tani - Sering disebut sebagai salah satu tradisi tato tertua di dunia, tato Mentawai di Pulau Siberut, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat hingga kini bahkan masih bertahan. Bukan sekadar seni menghias tubuh, melainkan bagian dari identitas, spiritualitas masyarakat Mentawai yang dibuat dari bahan alami.
Fernando Samaloisa, pemuda yang berasal dari Pulau Siberut, menyebutkan bahwa tato Mentawai sebagai salah satu tradisi tato tertua yang masih memanfaatkan tanaman dan bahan yang Ada di sekitar.
Baca juga: Lima Komoditas Pertanian Pulau Siberut Mentawai
“Kalau tato Mentawai itu dari tanaman. Bahan-bahan tintanya dari tebu. Ada juga bahan lain yang diambil dan dibuat jadi arang,” ungkap Fernando saat dihubungi oleh tim Jagad Tani.
Salah satu keunikan tato Mentawai terletak pada bahan tintanya. Berbeda dengan tato modern, masyarakat Mentawai memanfaatkan air tebu sebagai salah satu bahan baku.
Menurut Fernando, jenis tebu merah kerap digunakan karena diyakini membuat tato lebih awet dan air tebu juga dipercaya dapat membantu mengurangi keluarnya darah saat proses penatoan berlangsung.
“Kalau tebu merah itu untuk tahan lamanya,” sambungnya.
Selain tebu, daun pisang dan tempurung kelapa juga menjadi bahan penting dalam pembuatan tinta tato. Daun pisang dibakar hingga menjadi abu, kemudian dicampur dengan air tebu untuk menghasilkan warna hitam alami.
Sementara itu, tempurung kelapa juga dibarang sampai menjadi arang halus lalu dicampurkan dengan air tebu. Arang tempurung kelapa inilah yang menjadi pigmen utama tinta tato. Tak hanya itu, tempurung kelapa juga dimanfaatkan sebagai wadah untuk mengaduk tinta, menunjukkan bagaimana masyarakat Mentawai memanfaatkan hasil alam secara menyeluruh.
Dalam kajian ilmiah berjudul Titi Mentawai: Sanggahan terhadap Tato Mentawai Tertua di Dunia karya Juniator Tulius dari Nanyang Technological University, Singapore, disebutkan bahwa jarum tato Mentawai juga bisa dibuat dari tulang hewan, duri tumbuhan tertentu seperti duri jeruk dan kayu karai. Jarum tersebut dipasang pada sebatang kayu dan dipukul dengan kayu lain. Alat ini dikenal dengan nama lilippat patiti.
Pembuatan tato Mentawai tidak dilakukan sembarangan. Prosesnya biasanya diawali dengan ritual adat yang dipimpin oleh sikerei (tabib). Setelah itu, sipatiti (ahli tato) menggambar motif di tubuh orang yang ingin ditato sebagai panduan sebelum jarum mulai mengetuk kulit.
Penatoan dilakukan secara bertahap, dimulai dari bagian tubuh tertentu seperti lengan, dada, hingga kaki. Motif yang digambar biasanya terinspirasi dari alam sekitar seperti daun sagu, binatang, ombak, dan garis geometris yang melambangkan peran sosial, profesi, serta keseimbangan hidup manusia dengan alam.
Bagi Suku Mentawai, tato dipercaya sebagai pakaian jiwa yang akan dibawa hingga ke alam setelah kematian. Tato juga menjadi penanda kedewasaan, keberanian, dan status sosial seseorang dalam komunitas adat.
Dengan memanfaatkan tebu, kelapa, pisang, bambu, dan berbagai hasil alam lainnya, tato Mentawai menjadi bukti nyata kearifan lokal di tengah tren global. Mengangkat nilai-nilai alami dan keberlanjutan, tato Mentawai hadir sebagai warisan budaya yang lahir dari tanah, tumbuh bersama alam, dan hidup di tubuh manusia.

