Mina Tani Lestari Kembangkan Pertanian Organik Edukatif
Jagad Tani - Memulai kiprahnya sejak fase new normal pascapandemi Covid-19, Kelompok Wanita Tani (KWT) Mina Tani Lestari bermula dari keinginan untuk tetap produktif dan mencari aktivitas menyegarkan di tengah pembatasan sosial.
Ketua KWT Mina Tani Lestari, Tina Maretina, menjelaskan bahwa ide pembentukan kelompok ini muncul saat pandemi, ketika masyarakat kesulitan mendapatkan tanaman herbal. Lahan yang sebelumnya merupakan tempat pembuangan puing dan sampah kini disulap menjadi kebun produktif berbasis edukasi dan pertanian organik.
Baca juga: Inovasi Ibu Esih, Ubah Sampah Jadi Wayang
“Waktu corona kan orang pada nyari herbal. Kebetulan kita punya potensi itu. Awalnya ini kebun tanaman obat, taman koleksi tanaman obat. Dari situ berproses terus sampai sekarang,” ujar Tina saat ditemui oleh tim Jagad Tani.
KWT Mina Tani Lestari mulai aktif mengelola kebun sejak tahun 2022. Dalam perjalanannya, kawasan pertanian ini dikembangkan dengan konsep tiga zonasi pemanfaatan, yakni zona tanaman obat, zona tanaman pangan, dan zona tanaman hias.
“Tanaman pangan kita fokus ke hortikultura seperti sayur-sayuran. Untuk tanaman hias ada bonsai dan kaktus. Kita juga budidaya ikan, sekarang lagi fokus ke nila,” jelasnya.
Selain produksi pangan, Mina Tani Lestari juga mengedepankan aspek edukasi. Setiap tanaman dilengkapi dengan barcode yang terhubung ke laman informasi khusus, berisi nama latin dan manfaat tanaman.
“Banyak generasi sekarang banyak yang nggak tahu ini bisa buat obat, nggak tahu ini tanaman apa dan fungsinya apa. Barcode ini untuk edukasi, terinspirasi dari Kebun Raya Bogor,” kata Tina.
Salah satu komoditas unggulan kelompok ini adalah pakcoy hidroponik, terutama jenis baby pakcoy yang diminati masyarakat karena teksturnya yang lebih renyah dan rasa yang manis. Dengan siklus panen yang relatif singkat, Mina Tani Lestari mampu melakukan panen hingga dua kali dalam sebulan.
"Zona Tanaman Pangan, KWT Mina Tani Lestari." (Jagad Tani/Rahmat Iskandar Rizki)“Baby pakcoy itu justru favorit. Siklusnya cepat, satu bulan bisa dua kali panen. Dari situ keuntungannya juga lebih baik,” ungkapnya.
Hasil panen hidroponik Mina Tani Lestari telah dipasarkan melalui kerja sama dengan katering sekolah, khususnya sekolah tahfiz yang menerapkan standar ketat penggunaan bahan pangan tanpa pestisida.
“Mereka punya spesifikasi sayur yang tidak boleh pakai pestisida. Kebetulan kita memang organik, jadi cocok,” jelas Tina.
Dalam hal pemasaran, KWT Mina Tani Lestari juga tergabung dalam Forum KWT Kota Tangerang, yang menjadi wadah kolaborasi antar kelompok tani wanita. Melalui forum ini, kebutuhan pasokan dan distribusi hasil panen dapat saling melengkapi.
Saat ini, Mina Tani Lestari memiliki sekitar 20 anggota, terdiri dari 7 orang ibu-ibu sebagai anggota inti dan selebihnya sebagai anggota pendukung. Meski demikian, tantangan tetap dihadapi, terutama terkait perubahan iklim yang sulit diprediksi.
“Cuaca sekarang ekstrem. Kadang terlalu panas, kadang hujan terus. Pernah satu sel tanaman mati semua,” ujar Tina.
Ke depan, Mina Tani Lestari menargetkan diri sebagai pusat pelatihan pertanian. Pada tahun 2026, kawasan ini ditetapkan sebagai pusat pelatihan pertanian perkotaan dan pedesaan swadaya satu-satunya di Kota Tangerang yang terdaftar di Kementerian Pertanian (Kementan).
“Kita ingin jadi pionir pusat pelatihan, karena se-Kota Tangerang cuma satu pusat pelatihan di bawah Kementan, dan itu di sini,” ujar Tina.
Baca juga: Ikan Lempuk Jadi Primadona Danau Ranu Grati
Kegiatan edukasi yang dilakukan mencakup kunjungan sekolah dan kampus, mulai dari tingkat TK hingga perguruan tinggi. Materi disesuaikan dengan usia peserta, dari pengenalan lingkungan dan pentingnya makanan sehat hingga praktik langsung bercocok tanam.
“Anak-anak diajarin kalau makanan itu nggak ujug-ujug ada. Ada proses panjang dan kerja keras petani. Supaya mereka menghargai makanan dan nggak membuang-buang,” tutupnya.

