• 20 January 2026

Inovasi Ibu Esih, Ubah Sampah Jadi Wayang

uploads/news/2026/01/inovasi-ibu-esih-ubah-449569e2dbc8a2b.jpeg

Jagad Tani - Bagi sebagian orang, daun jagung hanyalah sampah. Namun di tangan Ibu Esih Sukaesih, anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Mina Lestari, kelobot jagung justru berubah menjadi sebuah karya seni bernilai edukasi dan ekonomi berupa wayang golek dari daun jagung.

Perjalanan wayang daun jagung ini tidak lahir dari rencana besar. Awalnya, Ibu Esih mengumpulkan sampah daun jagung tersebut di sekitar rumahnya. Sampah itu disimpan, dan belum tahu akan dijadikan apa. Hingga suatu waktu, ide itu menemukan jalannya sendiri.

Baca juga: Kopi Wamena, Jawara Arabika dari Lembah Baliem

“Kalau kata orang ini sampah, tapi kalau kata saya ini duit,” ujar Esih saat ditemui oleh tim Jagad Tani di Kota Tangerang, Selasa pagi (13/01).

Semua bermula dari keluarga. Saat anaknya menikah, Ibu Esih membuat berbagai kerajinan dari kain perca, seperti bros, yang digunakan sebagai aksesori pernikahan. Dua bulan kemudian, kerabat lain yang akan menikah tertarik membeli karya serupa, namun dengan satu pertanyaan: “Bu, ada karya baru tidak?”

Pertanyaan sederhana itu memantik kreativitas. Ibu Esih mengajak keluarga untuk mencoba membuat sesuatu dari sampah yang selama ini ia simpan. Dari situlah lahir produk pertama berbahan kelobot jagung, berupa gantungan kunci. Produk ini kemudian terus berkembang dan menjadi cikal bakal karya yang telah bertahan hingga sekitar delapan tahun, sejak 2017–2018.

Seiring waktu, Ibu Esih aktif di PKK Pokja II, yang fokus pada pendidikan dan keterampilan. Saat pandemi, muncul kegelisahan bersama yakni soal anak-anak yang semakin lekat dengan gawai. Dari diskusi PKK dan KWT Mina Lestari, muncul gagasan menjadikan kerajinan sebagai media edukasi alternatif.

Wayang dari daun jagung pun lahir, bukan sekadar sebagai karya seni, tetapi sebagai alat pembelajaran. Wayang ini dirancang untuk melatih motorik tangan, mengasah rasa, dan merangsang pikiran.

“Bikin sesuatu itu harus pakai rasa dan pikiran. Kalau ditekunin, bisa jadi cuan,” kata Ibu Esih.

Wayang-wayang golek buatan Esih dibalut dengan kain perca bermotif batik. (Jagad Tani/Rahmat Iskandar Rizki)

Menariknya, bentuk wayang ini tidak pernah ia pelajari dari internet. Semua lahir dari insting dan pengalaman masa kecil. Ibu Esih tumbuh di daerah pegunungan Sukabumi, terbiasa bermain di kebun dan belajar dari orang tua serta neneknya.

“Saya (masa kecilnya tinggal di) daerah Sukabumi, Cibadak sana, pegunungan. Kan memang kita akuin pasti mainnya kayak Si Bolang, ke kebun-kebun. Terus itu diajarin sama nenek, sama bapak saya. Dari situ insting saya untuk eksplorasi dan membuat (sesuatu) itu kebentuk,” tuturnya.

Bahan baku wayang berasal dari kelobot jagung yang ia kumpulkan sendiri dari sekitar ruko tempat tinggalnya. Sampah tersebut relatif bersih karena tidak tercampur dengan sampah pasar. Kelobot dicuci, dijemur hingga kering. Cukup dijemur satu hari jika matahari terik, lalu sebagian diwarnai menggunakan pewarna sederhana. Satu wayang bisa dibuat dalam waktu minimal setengah jam.

Harga wayang ini terjangkau, sekitar Rp5.000 per wayang. Dalam jumlah besar, harganya bisa lebih murah. Karya ini bahkan rutin dipesan oleh Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) sebagai media edukasi. Selain itu, penjualan juga dilakukan melalui WhatsApp dan Instagram dengan nama Wayang SHM.

SHM sendiri dimaknai beragam, namun bagi Ibu Esih, SHM adalah singkatan dari Sukaesih Harus Mandiri, sekaligus mencerminkan filosofi Sampah Hasilnya Memuaskan.

Wayang daun jagung ini tidak hanya sarat fungsi, tetapi juga filosofi kehidupan. Setiap bagian tubuh wayang memiliki makna: tangan melambangkan gotong royong, wajah menghadap ke depan sebagai simbol fokus pada masa depan, dua ikatan di dada sebagai ikatan hati untuk meniatkan yang baik-baik, dan simpul di kepala sebagai cita-cita.

Tampak deretan wayang golek yang tampak estetik dengan peduan warna beragam. (Jagad Tani/Rahmat Iskandar Rizki)

Adapun Karakter wayang terinspirasi dari Pandawa Lima, yakni Yudistira, Bima (Werkudara), Arjuna, Nakula, dan Sadewa, yang merepresentasikan nilai kebaikan, keberanian, kelembutan, dan kebijaksanaan.

Manfaatnya pun lintas usia, lewat pembuatan wayang ini, anak-anak dilatih motorik dan kreativitasnya, remaja dan dewasa bisa melihat peluang ekonomi kreatif, sementara bagi lansia, aktivitas ini dipercaya membantu menjaga daya ingat dan mengurangi risiko demensia.

Baca juga: Ikan Lempuk Jadi Primadona Danau Ranu Pasuruan

Kini, wayang daun jagung karya Ibu Esih menjadi kebanggaan Kecamatan Cibodas. Beberapa sekolah dan taman kanak-kanak datang untuk belajar langsung. Bahkan, karya ini telah mendapat perhatian media nasional. Namun bagi Ibu Esih, pengakuan bukan tujuan utama.

“Apa sih yang bisa kita kasih ke negara? Ya ini aja. Seenggaknya bisa mengurangi sampah,” ujarnya.

Dari kelobot jagung, kain perca, hingga sumpit bambu, semuanya diolah dengan satu semangat, mengurangi sampah, melestarikan budaya, dan memberi manfaat bagi banyak orang. Sebuah karya sederhana, lahir dari tangannya, namun bermakna besar bagi lingkungan dan generasi.

Related News