• 20 January 2026

Buah Merah, Tanaman Endemik Papua yang Bernilai

uploads/news/2026/01/0-33696e64d070793.jpg

Jagad Tani - Di tengah beragamnya komoditas tanaman di Papua Pegunungan, buah merah (Pandanus conoideus) tetap menjadi salah satu produk khas yang melekat kuat dengan masyarakat lokal. Bahkan buah merah masih diproduksi dan diperdagangkan, terutama oleh masyarakat asli di wilayah pegunungan.

Hal tersebut disampaikan Andian Sumartha, salah seorang warga yang menetap di Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan, saat dihubungi oleh tim Jagad Tani via telepon.

Baca juga: Hilirisasi Garam Modangan Berpotensi Tingkatkan Kesejahteraan

“Buah merah itu dulu sempat sangat booming. Sekarang memang tidak seramai dulu, tapi tetap ada dan masih diproduksi masyarakat,” ujar Andian.

Buah merah merupakan tanaman endemik Papua yang tumbuh subur di wilayah pegunungan Papua (Indonesia) dan Papua Nugini. Mulai dari dataran rendah hingga ketinggian 2.500 mdpl dan banyak ditemukan di lembah Baliem Wamena, Tolikara, Pegunungan Bintang, Pegunungan Tengah (Jayawijaya, Puncak Jaya, Paniai, Mimika, Nabire), Yahukimo, Jayapura, Sorong, Monokwari, serta daerah lain di Papua.

Karena keunikannya, buah merah menjadi salah satu ikon hasil hutan Papua.

Menurut Andian, saat ini buah merah umumnya diolah secara sederhana oleh masyarakat. Hasil olahan biasanya dijual dalam bentuk minyak buah merah, yang dikemas menggunakan jerigen atau botol-botol sederhana.

“Sekarang sudah mulai ada yang dikemas dalam botol, dulu kebanyakan cuma pakai jerigen. Tapi tetap, yang jual itu kebanyakan masyarakat asli,” jelasnya.

Produksi Masih Tradisional

Andian menuturkan, pengolahan buah merah masih didominasi oleh cara tradisional. Prosesnya membutuhkan waktu dan tenaga cukup panjang, mulai dari pemanenan hingga pemasakan untuk menghasilkan minyak.

Karena prosesnya yang tidak mudah dan belum dikelola secara massal, produksi buah merah cenderung terbatas. Hal ini membuat komoditas tersebut belum berkembang maksimal sebagai produk unggulan skala industri.

“Pengelolaannya masih sangat tradisional. Belum banyak sentuhan teknologi atau pendampingan,” katanya.

Meski demikian, buah merah tetap memiliki nilai ekonomi, terutama bagi masyarakat lokal. Salah satu produk olahannya berupa ekstrak minyak buah merah, bahkan harga jualnya bisa mencapai Rp 1.500.000 per liter, sementara untuk harga jual dalam bentuk segar hanya Rp 20.000 - 50.000 per buah. 

Selain dijual, minyak buah merah juga banyak dimanfaatkan untuk konsumsi sendiri sebagai bagian dari pengobatan tradisional, karena kandungan gizinya yang tinggi dan dipercaya memiliki berbagai khasiat untuk kesehatan. Sebab mengandung berbagai senyawa, seperti anti-oksidan, asam lemak, dan berbagai vitamin, hingga karoten. Adapun kandungan karoten yang tinggi berasal dari warna merahnya yang pekat.

Potensi Besar, Perlu Dukungan

Andian menilai, buah merah sebenarnya memiliki potensi besar untuk dikembangkan, baik sebagai produk kesehatan maupun komoditas bernilai ekspor. Namun, keterbatasan sumber daya manusia, akses pasar, serta minimnya pendampingan menjadi tantangan utama.

“Kalau dikelola dengan baik, buah merah ini luar biasa. Tidak tumbuh di daerah lain, itu keunggulan yang jarang dimiliki,” ujarnya.

Ia berharap ke depan ada perhatian lebih banyak pihak yang terlibat, khususnya dalam hal pendampingan pengolahan, pengemasan, dan pemasaran, agar buah merah tidak hanya dikenal sebagai produk tradisional, tetapi juga mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

“Sayang kalau cuma berhenti di situ-situ saja. Padahal potensinya besar sekali,” pungkas Andian.

Related News