Jagad Tani - Hutan Penelitian Dramaga merupakan salah satu kawasan penting bagi pengembangan ilmu pengetahuan kehutanan dan konservasi keanekaragaman hayati di Indonesia. Kawasan ini dibangun pada tahun 1956 oleh Balai Penyelidikan Kehutanan.
Hal tersebut disampaikan oleh Prof. Dr. Hendra Gunawan, Peneliti Ahli Utama Konservasi Keanekaragaman Hayati Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang menjelaskan bahwa Balai Penyelidikan Kehutanan sendiri telah berdiri sejak tahun 1913, dan saat ini telah berusia 112 tahun.
Baca juga: Lemahnya Pengelolaan Hutan, Tingkatkan Risiko Banjir
“Pada awalnya, kawasan ini disebut sebagai kebun percobaan. Tujuannya adalah untuk mengumpulkan berbagai jenis pohon hutan, baik dari seluruh Indonesia maupun dari luar negeri, untuk diteliti demi kepentingan ilmu pengetahuan dan perekonomian,” ujar Hendra kepada tim Jagad Tani.
Ia menambahkan, sebagian besar pohon yang ditanam di Hutan Penelitian Dramaga merupakan jenis-jenis komersial yang banyak diperdagangkan, terutama dari famili Dipterocarpaceae. Jenis-jenis tersebut antara lain meranti, keruing, dan damar mata kucing yang menjadi ciri khas kawasan ini.
Saat ini, Hutan Penelitian Dramaga memiliki total 130 jenis tumbuhan, terdiri atas 127 jenis pohon, dua jenis bambu, dan satu jenis rotan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 88 jenis merupakan flora asli Indonesia, sementara 42 jenis lainnya berasal dari luar negeri, seperti Afrika, Amerika, dan Meksiko.
“Famili yang paling dominan di sini adalah Dipterocarpaceae, yaitu pohon-pohon berbiji bersayap dua seperti meranti dan keruing. Selain itu, ada juga berbagai jenis damar dari marga Hopea yang menjadi kekhasan kawasan ini,” jelasnya.
Selain pohon-pohon berdaun lebar yang tergolong kayu keras, kawasan ini juga memiliki jenis kayu lunak berdaun jarum seperti pinus, araucaria, dan podocarpus. Keanekaragaman ini menjadikan Hutan Penelitian Dramaga sebagai representasi ekosistem hutan yang sangat lengkap.
Tidak hanya berfungsi sebagai lokasi penelitian, kawasan ini juga dimanfaatkan oleh masyarakat untuk berbagai aktivitas. Mulai dari rekreasi keluarga, kunjungan pelajar, hingga kegiatan komunitas seperti bersepeda, senam jantung sehat, dan fotografi. Selain itu, kawasan ini kerap digunakan untuk kegiatan shooting film dan foto pranikah dengan izin resmi.
Dalam bidang riset, Hutan Penelitian Dramaga telah menjadi lokasi berbagai penelitian, mulai dari perlindungan hutan, hama dan penyakit tanaman, uji provenance tanaman hutan, hingga penelitian inokulasi gaharu. Penelitian lain juga mencakup interaksi pohon dengan mikroorganisme tanah seperti mikoriza.
“Mahasiswa juga banyak melakukan penelitian di sini, mulai dari satwa burung, tumbuhan bawah, hingga rusa. Pada prinsipnya, semua penelitian yang membutuhkan ekosistem hutan dapat dilakukan di kawasan ini,” pungkas Hendra.
Dengan sejarah panjang dan keanekaragaman hayati yang dimilikinya, Hutan Penelitian Dramaga terus berperan sebagai laboratorium alam sekaligus ruang edukasi dan konservasi yang penting bagi Indonesia.

