• 27 January 2026

Burung Blackthroat Afrika Kian Diminati Pasar Indonesia

uploads/news/2026/01/burung-blackthroat-afrika-kian-75066474643b460.jpeg

Jagad Tani - Burung Blackthroat atau Kenari Leher Hitam yang berasal dari Afrika kini semakin diminati para pecinta burung di Indonesia. Bahkan, jenis burung ini sudah berhasil dikembangkan melalui penangkaran lokal, salah satunya di Bandung, sehingga yang banyak beredar merupakan hasil ternak dalam negeri.

Hal tersebut disampaikan oleh Wahab, salah seorang penjaga Kios Abu, di Pasar Burung Pramuka. Ia menjelaskan, terdapat beberapa jenis Blackthroat yang dikenal di pasaran, seperti Somerini, Botswana, dan Senegal. Namun, jenis yang paling umum diperjualbelikan ialah Botswana.

Baca juga: Hutan Penelitian Dramaga Warisan Riset Kehutanan Indonesia

“Kalau di pasaran, yang paling banyak itu Botswana,” ujar Wahab kepada tim Jagad Tani, Rabu siang (21/01).

Dari segi harga, Blackthroat tergolong burung bernilai ekonomi tinggi. Anakan usia sekitar tiga bulan, harga jantan mencapai Rp650.000 per ekor, dan betina sekitar Rp400.000 per ekor. Sementara itu, Blackthroat dewasa dengan usia satu tahun ke atas dibanderol Rp1.200.000 untuk jantan dan Rp500.000 untuk betina.

Menurut Wahab, pasar Blackthroat di Indonesia saat ini masih didominasi oleh kalangan penghobi, terutama yang tergabung dalam komunitas-komunitas. Banyak di antaranya berasal dari kalangan pekerja kantoran yang memelihara burung sebagai hiburan di waktu senggang.

“Biasanya buat menghilangkan bosan. Penghobinya masih ramai,” katanya.

Daya tarik utama Blackthroat terletak pada kualitas suara. Burung ini dikenal memiliki roll panjang dengan karakter suara yang dianggap mewah. Meski sekilas terdengar sederhana, suara Blackthroat dinilai memiliki nilai tinggi bagi penghobi yang memahami kualitas kicauannya.

“Kalau sudah dengar suaranya, biasanya langsung tertarik,” ucap Wahab.

Selain suara, Blackthroat dewasa juga memiliki keistimewaan visual berupa gaya buka sayap atau Garuda, yakni membuka dan mengembangkan sayap hingga tampak gagah dan elegan.

Untuk perawatan, Wahab menyebut Blackthroat termasuk burung yang tidak rewel. Pakan utamanya berupa biji-bijian, khususnya jenis yang dikenal dengan nama Jewawut. Sebagai tambahan, burung ini juga diberi sayuran seperti sawi hijau dan sawi putih, serta buah-buahan seperti apel.

“Makannya bebas, sayur dan buah juga mau,” jelasnya.

Saat ini, penjualan Blackthroat di Pasar Burung Pramuka terbilang stabil. Wahab mengatakan, burung yang sudah jinak dan siap pelihara biasanya tidak lama bertahan di kios karena sudah keburu dibeli.

“Kalau Blackthroat, ramai terus. Enggak ada musimannya kalau Blackthrout,” pungkasnya.

Related News