Teguhkan Konsistensi dan Komitmen Sebelum Memelihara Marmoset
Jagad Tani - Marmoset, yang dikenal sebagai monyet terkecil di dunia, kian diminati sebagai satwa peliharaan eksotik. Namun, di balik ukurannya yang kecil dan tampilannya yang menggemaskan, marmoset membutuhkan kesiapan dan tanggung jawab besar dari pemiliknya.
Hal tersebut disampaikan oleh drh. Naufal H. Maulana, dokter hewan sekaligus pemilik Rooftop Exotic Pets, bahwa komitmen jangka panjang merupakan hal paling utama yang harus dipersiapkan sebelum memutuskan memelihara marmoset.
Baca juga: Fakta Penting Perawatan Marmoset dari Dokter Hewan
“Yang paling penting itu komitmen. Hewan tidak pernah meminta untuk dipelihara, tetapi kita yang memilih mereka. Jangan sampai baru sebentar dipelihara lalu bosan dan akhirnya ditelantarkan, itu tidak bijak,” ujar Naufal kepada tim Jagad Tani.
Menurutnya, komitmen menjadi krusial karena usia hidup marmoset cukup panjang, yakni dapat mencapai 12 hingga 15 tahun. Oleh sebab itu, calon pemilik harus benar-benar mempertimbangkan kesiapan fisik, mental, dan waktu untuk merawat satwa tersebut dalam jangka panjang.
“Harus ditanya ke diri sendiri, sanggup atau tidak memeliharanya sampai belasan tahun,” katanya.
Selain komitmen, kesiapan finansial juga perlu diperhatikan. Naufal menjelaskan bahwa meskipun biaya perawatan harian relatif terjangkau, harga marmoset sebagai satwa eksotik tergolong mahal.
“Biaya perawatannya sebenarnya tidak besar. Untuk sepasang marmoset, kurang dari Rp10.000 per hari. Tapi hewannya memang mahal,” jelasnya.
Faktor lain yang tak kalah penting adalah ketersediaan ruang dan kandang yang sesuai dengan usia marmoset. Untuk marmoset usia di bawah enam bulan, kandang berukuran kecil seperti kandang kucing masih dinilai cukup. Namun, saat memasuki usia enam bulan hingga dewasa, ukuran kandang harus diperbesar.
“Kalau sudah di atas enam bulan atau satu tahun sampai dewasa, minimal luas kandangnya sekitar 0,6 meter persegi,” terangnya.
Naufal menekankan bahwa memelihara marmoset bukan sekadar mengikuti tren, melainkan harus didasari tanggung jawab dan kepedulian terhadap kesejahteraan satwa.
“Yang penting komitmen saja, ketika memelihara mereka ya jangan setengah-setengah gitu,” pungkasnya.

