• 27 January 2026

Cuaca Ekstrem, Nelayan Berhenti Melaut

uploads/news/2026/01/cuaca-ekstrem-akibatkan-63--39144b81573fe0f.jpeg

Jaga Tani - Di tengah kondisi cuaca ektrem yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir, menyebabkan sejumlah nelayan di pesisir berhenti melaut selama beberapa waktu ke belakang.

Dalam catatan Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI), sebanyak 95% nelayan di lebih dari 350 wilayah pesisir terdampak oleh cuaca buruk, Bahkan sebanyak 63% nelayan terpaksa harus menghentikan aktivitas melautnya akibat tingginya risiko keselamatan di laut.

Baca juga: Stok Minyak Goreng Dijaga Jelang Ramadhan

“Beberapa hal karena kondisi di lapangan adalah terdapat sekitar 30 lebih insiden laporan kesalahan laut. Mulai perahu atau sampan, lalu alat tangkap yang rusak,“ ungkap Sekjen KNTI, Niko Amrullah.

Kondisi cuaca ekstrem bukan hanya merusak perahu dan alat tangkap saja, tetapi juga merusak infrastruktur pesisir seperti, tanggul jebol, serta permukiman nelayan yang ikut terendam, akibat banjir rob. Akibatnya berdampak langsung pada pendapatan para nelayan.

Pendapatan normal nelayan yang mulanya berkisar Rp400 ribu hingga Rp600 ribu per hari. Namun saat kondisi cuaca ekstrem, menurut Niko, pendapatan nelayan bisa turun hingga Rp200 ribu per hari. 

“Kalau kita estimasi kasar dengan situasi cuaca hari ini yang bisa kita lihat ya, secara kasat mata itu lebih ekstrem dibanding tahun-tahun sebelumnya. Jadi kan pendapatannya lebih turun lagi dibanding prediksi reguler tadi,” ucapnya.

Berdasarkan hasil survei KNTI, tercatat sebanyak 37% nelayan yang tetap pergi melaut meskipun kondisi cuaca sedang tidak bersahabat, demi memenuhi kebutuhan keluarga.

"Meskipun ada informasi kurang kondusif perairan, tapi ya itu tadi karena kebutuhan rumah, kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi. Artinya tanda kutip mereka nekat,” tukasnya.

 

Related News