Jagad Tan - Jagat maya kini tengah diramaikan oleh fenomena yang dikenal dengan sebutan nihilist penguin, yakni berupa potongan gambar, ilustrasi, hingga video penguin berjalan menuju latar gunung dengan narasi yang ditarik ke persoalan eksistensialisme, yang banyak beredar di berbagai platform media sosial, seperti Instagram, TikTok, hingga X.
Fenomena ini sebetulnya berasal dari dokumenter Encounters at the End of the World karya Werner Herzog (sebuah film dokumenter tentang Antartika dan orang-orang yang memilih untuk menghabiskan waktu di sana), dan menarik perhatian warganet, karena dianggap merepresentasikan perasaan hampa, sepi, sunyi, lelah, atau bahkan kehilangan makna hidup yang dirasakan oleh sebagian orang.
Baca juga: Otomatisasi IoT Permudah Smart Farming Kebun Wangi
Tentunya fenomena ini muncul di tengah arus global yang sedang tidak menentu. Mulai dari kenaikan harga kebutuhan pokok, sulitnya mencari lapangan pekerjaan, perubahan iklim, hingga kondisi geopolitik yang lagi karut-marut. Jelas bagi sebagian orang, konten nihilist penguin menjadi sarana untuk mengekspresikan perasaan tanpa harus mengungkapkannya secara langsung.
Bahkan narasi yang menyertainya di banyak caption sosial media, melingkupi isu tekanan hidup, ketidakpastian masa depan, hingga rasa jenuh terhadap tuntutan sosial-ekonomi, dan berbagai hal yang erat kaitannya dengan filsafat eksitensialisme (pencarian makna).
Secara semiotika (simbol), penggambaran seekor penguin yang berjalan meninggalkan kelompoknya, dan lebih memilih berdiri di jalan yang sunyi menjauhi kerumuman untuk menuju pegunungan es, meski secara kasat mata tampak sederhana, namun, jika didalami pesan yang disampaikan cukup mendalam. Sebab penguin merupakan mahluk yang berkoloni dan hidup bersosial, tapi pada kasus penguin Adelie berbeda. Jika ditarik ke dalam kacamata kontemplasi manusia, tentu akan menjadi ruang untuk bermuhasabah (introspeksi diri).
Menariknya, pada konteks yang lebih luas, fenomena ini juga bersinggungan dengan realitas di sektor riil, termasuk pertanian. Di tengah ketidakpastian cuaca, fluktuasi harga hasil panen, serta meningkatnya biaya produksi, jelas tidak sedikit petani yang merasakan kegelisahan. Perasaan lelah dan pasrah kerap muncul ketika usaha yang dijalankan tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh.
Walau demikian, fenomena nihilist penguin ini juga bisa menjadi ruang refleksi, sekaligus alarm pengingat bagi Sahabat Tani, soal betapa pentingnya dukungan sosial dan harapan kolektif. Agar bisa mendorong hadirnya kebijakan yang berpihak kepada para petani, serta membuka ruang bagi generasi muda dalam melihat sektor pertanian sebagai bidang yang memiliki masa depan.
Fenomena nihilist penguin menunjukkan bahwa media sosial bukan hanya sekadar ruang hiburan, tetapi juga sebagai cerminan kondisi psikologis masyarakat. Tantangannya kini adalah bagaimana keresahan yang tersirat itu dapat direspons dengan langkah nyata, supaya perasaan pasrah dapat diubah menjadi semangat untuk bertahan dan bangkit, baik di dunia digital maupun di kehidupan nyata.

