Otomatisasi IoT Permudah Smart Farming Kebun Wangi
Jagad Tani - Penerapan teknologi otomatisasi menggunakan Internet of Things (IoT) di lahan pertanian, secara efektif dapat membantu mempermudah pengawasan pada sistem pertanian hidroponik.
Di Ciherang, Kabupaten Bogor, Awal Rachman Chalik, selaku owner Kebun Wangi, menjelaskan bahwa otomatisasi di Kebun Wangi difokuskan pada fungsi dasar seperti pengaturan hidup dan mati (on-off) pompa air serta kontrol suhu di dalam greenhouse.
Baca juga: Panganan Sehat Bantu Cegah Asam Lambung
“Jadi otomatisasinya simpel. Pompa itu hanya on-off saja, sudah diprogram. Untuk semai misalnya, lima menit nyala, tiga puluh menit mati,” ujar Awal kepada Jagad Tani, Rabu (29/01).
Menurutnya, bagian paling krusial dari otomatisasi adalah pengendalian suhu greenhouse. Jika suhu ruangan melebihi 32 derajat Celsius, kipas dan exhaust fan akan menyala secara otomatis, lalu mati kembali ketika suhu turun ke batas aman.
Untuk perangkatnya, Kebun Wangi menggunakan berbagai teknologi terjangkau. Sistem switch otomatis menggunakan BARDI Smart Home, termasuk untuk CCTV, sementara sensor suhu memanfaatkan perangkat e-wheeling dengan sistem S-on dan S-off.
“Karena di BARDI belum ada kontrol suhu, kita pakai e-wheeling. Tapi hampir semua otomatisasi di Kebun Wangi pakai BARDI,” jelasnya.
Awal menambahkan, pompa dalam sistem hidroponik memiliki peran vital karena berfungsi mengalirkan nutrisi dari tandon ke modul tanaman secara terus-menerus. Karena itu, gangguan listrik atau kerusakan pompa harus segera ditangani.
Meski telah menerapkan otomatisasi, pengecekan manual tetap menjadi bagian penting dari operasional harian. Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan tidak ada sumbatan aliran nutrisi, membersihkan lumut di talang, serta memangkas daun yang menguning.
“Kita tetap butuh cek manual. Namanya sistem, pasti ada potensi fault. Makanya tetap ada penjaga di sini,” katanya.
Pengecekan manual dilakukan tiga kali sehari mulai dari pagi, siang, dan sore, oleh petugas kebun dengan daftar periksa yang sudah ditentukan. Termasuk di dalamnya pengukuran kadar nutrisi tanaman yang hingga kini masih dilakukan secara manual.
Awal menegaskan, otomatisasi bukan untuk menggantikan peran manusia, melainkan membantu meringankan pekerjaan agar tidak terjadi kelalaian teknis.
Baca juga: BRIN dan UGM Kerjasama Riset Teknologi Pertanian
“Otomatisasi itu membantu farm boy supaya tidak lupa nyalain atau matiin alat. Tapi yang utama tetap harus ada orang,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa Kebun Wangi juga memanfaatkan panel surya untuk membantu suplai listrik, meski belum menggunakan baterai penyimpanan. Panel surya tersebut dirancang untuk menutupi sekitar separuh kebutuhan listrik kebun pada siang hari.
“Kalau hujan ya memang tidak produksi listrik. Tapi aman, dan bisa dimonitor jarak jauh,” tambahnya.
Lebih jauh, Awal menekankan pentingnya hubungan emosional antara petani dan tanaman, meskipun teknologi semakin canggih.
“Tanaman itu makhluk hidup. Kita tetap harus bonding. Masuk greenhouse, ngobrol sama tanaman, sambil zikir, buat menyalurkan energi positif,” tuturnya.

