• 25 February 2026

Krokot, Gulma Naik Kelas Jadi Superfood Eropa

uploads/news/2026/01/krokot-gulma-naik-kelas-264993052a226ed.jpeg

Jagad Tani - Krokot (Portulaca oleracea) selama ini dikenal di Indonesia sebagai tanaman gulma, yang bisa tumbuh liar di kebun, sawah, atau pinggir jalan, dan sering dianggap tidak mempunyai manfaat. Namun di Eropa tanaman ini justru dipandang sebagai superfood dan bahan pangan bernilai tinggi.

Sebagai gulma, krokot memiliki daya adaptasi yang luar biasa. Tanaman ini tahan panas, dapat tumbuh di tanah miskin hara, dan berkembang cepat tanpa perawatan khusus. Karena sifat inilah krokot sering dibasmi oleh petani. Padahal, di balik kesederhanaannya, krokot menyimpan kandungan gizi yang sangat kaya.

Baca juga: Fenomena Nihilist Penguin dan Keresahan Generasi

Melalui laman resmi IPB, Prof. Syarifah Iis Aisyah, Guru Besar Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB), menjelaskan bahwa Portulaca oleracea mengandung antosianin dalam kadar tinggi, terutama pada batang berwarna merah marun atau keunguan. Kandungan tersebut menjadikan tanaman ini bernilai tinggi dalam formulasi produk kosmetik modern.

Secara nutrisi, krokot termasuk tanaman yang menjadi salah satu sumber nabati asam lemak omega-3 tertinggi, bahkan melebihi beberapa jenis sayuran populer. Selain itu, krokot kaya akan vitamin A, C, dan E, serta mineral seperti magnesium, kalsium, kalium, dan zat besi. Kandungan antioksidan seperti betalain juga berperan penting dalam menangkal radikal bebas dan mendukung kesehatan jantung.

Di Eropa, krokot dikenal dengan nama purslane dan telah lama digunakan dalam tradisi kuliner Mediterania. Daun dan batang mudanya dikonsumsi sebagai salad, ditumis, atau dijadikan campuran sup. Krokot dihargai karena rasanya yang segar sedikit asam serta teksturnya yang renyah.

Dalam jurnal yang ditulis oleh Daisy Irawan, dkk., dari Depertment Teknologi Pangan dan Gizi Manusia, IPB, yang berjudul "Potensi Krokot (Portulaca oleracea) Sebagai Bahan Pangan Fungsional" tanaman ini banyak dikonsumsi di berbagai negara belahan dunia seperti Belanda, Perancis, hingga Yunani, dengan berbagai macam olahan. 

Tren gaya hidup sehat di Eropa juga semakin mengangkat status krokot sebagai superfood. Restoran modern hingga pasar organik menjual krokot sebagai sayuran premium, bahkan dibudidayakan secara khusus untuk memenuhi permintaan konsumen yang peduli kesehatan.

Krokot yang dianggap gulma di Indonesia sesungguhnya memiliki potensi besar sebagai sumber pangan fungsional. Dengan pengelolaan dan edukasi yang tepat, krokot tidak hanya dapat mengubah citra dari tanaman liar menjadi pangan bernilai, tetapi juga membuka peluang baru di bidang kesehatan dan ekonomi.

 

 

 

Related News