Konflik Balochistan Bisa Ganggu Distribusi Perdagangan Indonesia-Pakistan
Jagad Tani - Perdagangan antara Pakistan dan Indonesia menunjukkan tren yang menggembirakan dalam beberapa tahun terakhir, namun bagaimana jadinya jika serangan yang terjadi di Balochistan menjadi konflik yang berkepanjangan.
Menurut data Pakistan Bureau of Statistics, total ekspor Pakistan ke Indonesia meningkat tajam menjadi sekitar US$ 535 juta pada tahun fiskal 2024, naik drastis sekitar 275% dari US$ 142 juta pada tahun sebelumnya, terutama didorong oleh komoditas pangan seperti beras non-basmati.
Baca juga: Minyak Sawit Perkuat Hubungan Dagang Indonesia-Pakistan
Sedangkan berdasarkan data Kementerian Perdagangan (Kemendag), neraca perdagangan Indonesia-Pakistan pada tahun 2024 mencapai USD 4,1 miliar, dengan nilai ekspor Indonesia ke Pakistan sebesar USD 3,5 miliar dan impor Indonesia dari Pakistan sebesar USD 621,5 juta.
Adapun produk ekspor Indonesia meliputi minyak kelapa sawit, serat stapel (tiruan dan sintetik), dan batu bara. Untuk produk impor ke Indonesia meliputi beras, tembakau yang belum diproduksi, produk setengah jadi dari besi, buah jeruk, dan etil alkohol yang tidak didenaturasi.
Pakistan merupakan negara tujuan ekspor ke-14 dan asal impor ke-36 bagi Indonesia. Selain itu, Pakistan juga merupakan negara tujuan ekspor minyak sawit terbesar ketiga Indonesia setelah Tiongkok dan India dengan nilai mencapai USD 2,77 miliar pada tahun 2025.
Hal ini mencerminkan peluang bagi kedua negara untuk memperkuat hubungan ekonomi, terutama pada sektor agrikultur dan makanan, yang selama ini berperan strategis dalam hubungan bilateral. Bahkan sejak tahun 2013, Indonesia dan Pakistan telah menyepakati perjanjian kerja sama lewat Indonesia-Pakistan Preferential Trade Agreement (IP-PTA) dan tengah mempersiapkan perluasan IP-PTA menjadi Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) pada 2027 mendatang.
Namun, ketidakstabilan keamanan di provinsi Balochistan, yang terus diguncang oleh serangan kelompok separatis seperti Balochistan Liberation Army (BLA), bisa menjadi risiko nyata terhadap keberlangsungan ekspor pangan Pakistan ke pasar Indonesia, maupun sebaliknya.
Konflik Balochistan: Ancaman Ke Rantai Pasok
Konflik bersenjata di Balochistan bukan hanya menjadi masalah dalam negeri saja, sebab provinsi ini merupakan wilayah yang sangat penting bagi jaringan transportasi dan infrastruktur Pakistan karena lokasinya di pesisir barat daya, dekat pelabuhan strategis seperti Gwadar, terutama jika eskalasi menyebabkan gangguan pada rute logistik di Laut Arab dan mempengaruhi stabilitas ekonomi di kawasan Asia Selatan.
Meskipun dampak langsungnya mungkin terbatas pada saat ini, posisi strategis Balochistan sebagai pusat China-Pakistan Economic Corridor (CPEC) menjadikannya faktor risiko bagi perdagangan global dan regional.
Melansir dari TRT World, Senin, (02/02), Kepala Menteri Balochistan Mir Sarfraz Bugti menyatakan bahwa pasukan keamanan pakistan menewaskan 145 militan dalam operasi balasan terhadap serangan terkoordinasi yang terjadi di berbagai distrik. Bugti menjelaskan bahwa para militan melancarkan serangan di 12 lokasi berbeda sepanjang Sabtu (31/01) lalu.
Serangan tersebut menyasar sejumlah distrik, termasuk Quetta, Mastung, Gwadar, dan Nushki, dan menyebabkan 17 anggota pasukan keamanan tewas. Selain itu, 31 warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, juga dilaporkan tewas. BLA dilaporkan mengklaim bertanggung jawab atas serangan-serangan itu.
Bahkan, pada tahun 2025 lalu, di bulan Agustus pemerintah Pakistan sempat menangguhkan layanan data seluler di Balochistan selama tiga minggu sebagai upaya keamanan untuk mencegah jalur komunikasi teroris. Tentu saja hal ini juga dapat mengganggu komunikasi bisnis dan koordinasi logistik di wilayah tersebut.
Gangguan itu juga berpotensi menghambat pengiriman komoditas ekspor, termasuk beras dan produk pangan lainnya, dari pusat produksi di sebelah timur Pakistan menuju pelabuhan ekspor di selatan atau rute transit internasional. Dalam konteks perdagangan global, penundaan dan ketidakpastian pengiriman logistik ini dapat mengurangi daya tarik produk Pakistan di pasar luar negeri, termasuk di Indonesia.
Risiko Terhadap Investasi dan Diversifikasi Perdagangan
Selain mengganggu distribusi barang, konflik berkepanjangan juga berpotensi menurunkan kepercayaan investor asing. Infrastruktur transportasi dan pelabuhan sangat bergantung pada stabilitas keamanan untuk operasi yang efisien. Ketidakstabilan di Balochistan dapat mendorong perusahaan logistik dan eksportir mencari jalur alternatif yang lebih aman, yang pada gilirannya bisa menambah biaya dan waktu pengiriman.
Ini juga menjadi tantangan bagi Pakistan untuk memenuhi komitmen pasokan di pasar negara mitra. Indonesia sendiri sedang melihat peluang untuk diversifikasi sumber pangan dan bahan baku industri makanan, sehingga gangguan pasokan dari satu negara bisa menjadi alasan bagi importir Indonesia untuk mencari alternatif lain di Asia Tenggara atau India.
Baca juga: Durian Beku Indonesia Resmi Menembus Pasar China
Meskipun data menunjukkan bahwa ekspor pangan Pakistan ke Indonesia tumbuh secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir, khususnya komoditas seperti beras. Namun, bila konflik di Balochistan terus berlarut-larut, maka risiko nyatanya tidak hanya memengaruhi keamanan nasional Pakistan, tetapi juga berpotensi berdampak pada stabilitas rantai pasok perdagangan internasional.
Jika konflik ini terus berlanjut tanpa solusi yang komprehensif, tentunya ketidakpastian dalam logistik dan biaya bisnis dapat menurunkan kepercayaan pasar global terhadap produk Pakistan, termasuk di Indonesia, dan ini bisa menjadi sebuah keadaan yang akan merugikan kedua belah pihak dalam hubungan perdagangan jangka panjang.

