• 25 February 2026

Produksi Padi Harus Dijaga Meski Iklim Ekstrem

uploads/news/2026/02/meski-iklim-ekstrem-produksi-24160f481f3c9e9.jpeg

Jagad Tani -  Entang Sastraatmaja, selaku Dewan Pakar DPD Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jawa Barat, menyatakan bahwa produksi padi nasional jelang musim panen raya tahun 2026 tetap terjaga di tengah iklim yang masih berpotensi memiliki curah hujan tinggi di sejumlah wilayah.

“Saya yakin petani tetap mampu berproduksi dengan baik meskipun terjadi hujan ekstrem. Pemerintah secara serius membangun optimisme petani melalui berbagai program yang nyata dan terukur,” papar Entang dalam keterangan resminya di Kementerian Pertanian, dikutip Kamis (05/02).

Baca juga: Kim Jong Un Dorong Modernisasi Peternakan Korea Utara

Selain itu, menurut Entang, kesiapan produksi dan penyerapan gabah pada musim panen 2026 juga ditopang oleh distribusi benih unggul, penambahan alokasi pupuk subsidi, serta dukungan sarana pengelolaan air seperti sistem pompanisasi yang membantu mengatur lalu lintas air di lahan pertanian.

Entang menilai, persiapan tanam yang matang merupakan fondasi utama dalam menjaga keberlanjutan produksi padi nasional. Utamanya tidak hanya bertahan soal peningkatan produksi padi nasional sepanjang tahun 2025 lalu, tetapi juga meningkat pada tahun 2026.

“Petani harus tetap optimistis dan menjaga semangat,” ungkapnya.

Dalam catatan Badan Pusat Statistik (BPS), potensi luas panen Januari-Maret 2026 diperkirakan mengalami peningkatan sekitar 3,28 juta hektare (terjadi peningkatan sebesar 15,32%) jika dibandingkan Jan-Mar 2025. yang hanya 0,42 juta hektare (bulan Januari), 0,76 juta hektare (bulan Februari) dan 1,67 juta hektare (bulan Maret).

Bahkan dari sisi produksi, sepanjang Januari–Desember 2025 mencapai 34,69 juta ton atau meningkat 13,29% dibandingkan periode yang sama tahun 2024. Sementara produksi padi tercatat sebesar 60,21 juta ton gabah kering giling (GKG), naik 7,06 juta ton GKG (13,29%) secara tahunan.

"Sejalan dengan proyeksi lembaga internasional seperti FAO dan USDA yang memperkirakan produksi beras Indonesia berada di kisaran 34,6 juta ton. Lonjakan produksi ini menunjukkan bahwa produktivitas, perluasan luas panen, serta kebijakan yang berpihak kepada petani menjadi modal kuat menghadapi musim tanam berikutnya, termasuk awal 2026 yang masih menjanjikan,” terangnya.

Pemangku kepentingan tentunya juga harus memperkuat sinergi, dalam memastikan kesiapan tanam petani di tengah kondisi iklim yang tak menentu. Pendampingan lapangan, hingga kepastian distribusi pertanian dinilai penting, agar petani dapat bekerja dengan tenang dan produktif.

“Indonesia sudah membuktikan mampu menggenjot produksi. Tantangan ke depan adalah menjaga dan melestarikan capaian ini agar swasembada beras tidak hanya menjadi prestasi sesaat, tetapi berkelanjutan. Ini pekerjaan besar yang harus dijalankan dengan kehormatan dan tanggung jawab,” pungkasnya.

 
 

 

Related News