Amerika Perluas Ekspor Pertanian ke Indonesia
Jagad Tani - Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat terus bekerja sama untuk memperkuat hubungan ekonomi bagi kedua negara, khususnya dalam sektor pertanian. Sebagai bagian dari proses negosiasi Perjanjian Perdagangan Resiprokal, Indonesia berkomitmen untuk meningkatkan pembelian produk pertanian AS terutama untuk bahan baku industri domestik.
Berdasarkan Nota Kesepahaman yang ditandatangani oleh entitas bisnis dari kedua negara pada Juli 2025 lalu, ada lima komoditas yang masuk, yaitu kedelai, bungkil kedelai, gandum, kapas, dan jagung, yang dibutuhkan sebagai bahan baku untuk industri Indonesia dan belum diproduksi di dalam negeri.
Baca juga: Produksi Padi Harus Dijaga Meski Iklim Ekstrem
“Dari sisi para pengusaha dari pihak Indonesia juga tertarik untuk melanjutkan perdagangan. Tidak hanya untuk komoditas pertanian atau pangan, tetapi juga komoditas lain yang sangat penting bagi industri, seperti kapas dan beberapa lainnya,” ungkap Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam pertemuan dengan Under Secretary for Trade and Foreign Agricultural Affairs of United States Department of Agriculture (USDA) Luke J. Lindberg dan Delegasi Eksportir Produk Pertanian AS, di Jakarta, Rabu (04/02) lalu.
Menurutnya, pertemuan dengan USDA merupakan hal yang baik, karena perdagangan dengan AS merupakan sesuatu yang penting bagi Indonesia. Untuk sektor pertanian sendiri ditargetkan untuk pembelian sekitar USD4,5 miliar dari AS.
“Jadi, saya pikir kita mendorong kemajuan perjanjian dagang ini, karena saya pikir akan ada juga peluang investasi yang muncul dari kesepakatan ini. Begitulah cara Indonesia menerima investasi AS. Anda membawa modal serta teknologi, dan itu penting bagi Indonesia,” tutur Menko Airlangga.
Melalui situs Kedutaan Besar AS, USDA mengadakan misi dagang ke Jakarta, untuk memperluas akses pasar, meningkatkan ekspor pertanian Amerika, dan memanfaatkan peluang baru yang tercipta melalui Perjanjian Perdagangan Resiprokal Indonesia-AS.
Lewat misi yang dijadwalkan berlangsung pada 2-6 Februari 2026 itu, Delegasi AS dipimpin oleh Under Secretary for Trade and Foreign Agricultural Affairs Luke J. Lindberg. Selama kunjungan, staf Foreign Agricultural Service (FAS) USDA dan para ahli regional akan mengadakan pengarahan pasar, kunjungan lapangan, dan pertemuan business-to-business (B2B) dengan pembeli dari Indonesia, Malaysia, dan Timor-Leste.
“Presiden Trump dan saya mengadakan pertemuan dengan kelompok petani di Iowa pada minggu lalu. Dari pembicaraan yang produktif di sana dapat disimpulkan tentang pentingnya membangun kemitraan yang kuat dan langgeng di seluruh dunia. Dan, saya belum mendengar dari para petani kami tentang pasar lain yang lebih mereka sukai untuk diajak bermitra, selain Indonesia,” terang Lindberg.
Lindberg menjelaskan, jika antusiasme itu terlihat dari sejumlah 21 perusahaan agribisnis yang hadir pada saat pertemuan, lalu ada sebanyak 20 cooperator organizations yang mewakili segmen industri, serta ada 6 Departemen Pertanian dari negara bagian di AS. Manfaat sektor pertanian secara khusus ditujukan bagi ketahanan pangan di kedua negara, terutama ketahanan pangan yang berlanjut dari generasi ke generasi.
“Saya tahu banyak perusahaan kita yang hadir ini sangat ingin melihat kesepakatan dan transaksi terjadi di bawah perjanjian baru ini, serta ingin membangun hubungan pembeli-penjual yang akan berlangsung sangat lama. Jadi, saya benar-benar merasa bahwa masa depan yang indah ada di depan kita, dan kami sangat berharap dapat mengembangkan kesepakatan ini lebih lanjut,” pungkas Lindberg.

