• 25 February 2026

SWRO Bisa Atasi Kendala Cuaca Produksi Pergaraman

uploads/news/2026/02/swro-bisa-atasi-kendala-7511079af78b045.jpg

Jagad Tani - Penerapan Teknologi Evaporasi Pergaraman Tunnel-Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) menjadi sebuah solusi peningkatan produksi dan kualitas garam nasional utamanya dalam menghadapi kondisi cuaca yang tak menentu.

Teknologi ini merupakan inovasi antara tunnel garam dan mesin SWRO yang memungkinkan produksi garam berkualitas tinggi berlangsung sepanjang tahun, baik pada musim kemarau maupun musim hujan.

Baca juga: Pantauan Harga Bibit Lapak Gen-Z Pasar Petani

Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Koswara, dalam keterangan resminya, dikutip Sabtu (07/02) menyampaikan bahwa penggunaan SWRO di sektor pergaraman merupakan yang pertama di Indonesia.

Selain meningkatkan efisiensi dan konsistensi produksi, teknologi ini juga menghasilkan air bersih sebagai produk sampingan, yang dapat dimanfaatkan untuk mengatasi keterbatasan air tawar di wilayah pesisir. 

"Teknologi SWRO bekerja dengan menyaring air laut melalui proses pemisahan air tawar, senyawa garam, serta zat lain yang tidak diperlukan atau berpotensi berbahaya," ungkapnya.

Proses ini dinilai mampu menghasilkan air laut bersih dengan kandungan natrium klorida (NaCl) murni dan tingkat kepekatan mencapai 15 derajat Baume (BE), sehingga ideal untuk memasuki tahap kristalisasi garam. 

“Dengan kualitas bahan baku seperti ini, proses kristalisasi garam dapat berlangsung lebih singkat, sekitar tiga hingga lima hari dalam kondisi normal. Produksi menjadi lebih efisien, hasilnya pun lebih konsisten dan bermutu,” ujar Koswara. 

Penggunaan sistem tunnel yang terintegrasi dengan SWRO dinilai sebagai solusi untuk meningkatkan produktivitas garam berkualitas, dan inovasi pendukung usaha pergaraman rakyat dalam menghadapi kondisi cuaca yang menjadi kendala utama produksi. 

Ketua Koperasi Produsen Sae Nalendra Darma Raga, Kabupaten Indramayu, Carmadi, menyampaikan bahwa teknologi SWRO sangat membantu petambak garam, khususnya saat musim hujan. Sehingga proses produksi tetap berjalan tanpa bergantung sepenuhnya pada kondisi cuaca. 

“Dengan sistem tunnel dan penggunaan geomembran, garam yang dihasilkan lebih putih, bersih, dan memenuhi standar industri. Dalam waktu sekitar lima hari, kami sudah bisa memanen,” terang Carmadi. 

Related News