UGM Kembangkan Pertanian dan Alat Berbasis AI
Jagad Tani - Pemanfaatan teknologi Kecerdasan Artificial Intelligance (AI) sudah banyak dimanfaatkan di bidang informasi dan komunikasi, industri, kesehatan hingga di bidang pertanian termasuk yang dilakukan di lingkup Civitas Akademika Universitas Gadjah Mada (UGM).
Menurut dosen bidang Informatika Pertanian dari Fakultas Teknologi Pertanian, Andri Prima Nugroho, teknologi AI bisa digunakan dalam berbagai skema pertanian. Seperti membantu pemupukan yang disesuaikan dengan kearifan lokal, menyesuaikan kebutuhan tanaman melalui sensor dan menciptakan lingkungan yang sepenuhnya terkontrol.
Baca juga: Teknologi Pertanian Bisa Menjadi Kunci Produktivitas Hortikultura
“Kebutuhan tanaman langsung bisa dideteksi menggunakan sensor dan kamera termal, digunakan untuk mendeteksi Crop Water Stress Index (CWSI). Hal ini bukan bertujuan untuk menghilangkan stres sepenuhnya, tetapi menjaga stres pada level terukur agar tanaman tetap produktif dan tumbuh kembangnya optimal,” ujar Andri dalam keterangan resminya di UGM, dikutip Senin pagi (09/02).
Bahkan pemanfaatan AI ini dinilai bisa digunakan pada pertanian dalam ruangan atau lebih dikenal indoor farming dengan mengontrol cahaya yang dibutuhkan agar meniru ritme dari cahaya alami yang mengikuti pola terbit dan terbenam matahari.
Adapun Peneliti Eksplorasi Seismik dari FMIPA UGM Wiwit Suryanto menjelaskan bahwa, tim penelitinya melakukan pemanfaatan AI pada kabel fiber optik sebagai sensor untuk berbagai keperluan pemantauan dan keamanan. Menurutnya, kabel fiber optik dapat digunakan seperti “mikrofon” atau sensor getaran sepanjang kabel tersebut.
“Teknologi ini akan memungkinkan pengambilan data secara real-time dari infrastruktur yang sudah ada tanpa perlu memasang ribuan sensor baru, sehingga lebih efisien,” tuturnya.
Wiwit melanjutkan bahwa kabel fiber optik bisa dimanfaatkan juga untuk mitigasi tsunami serta gempa bumi dengan mendeteksi getaran, mendeteksi jenis kapal dan karakteristik getaran mesinnya, mencegah kerusakan kabel bawah laut akibat jangkar kapal dengan memberikan peringatan dini.
“Saat kapal mendekat atau tersangkut, memantau pencurian ikan atau aktivitas ilegal di perbatasan bisa terdeteksi,” terangnya.
Salah satu keunggulan dari sistem ini, dinilai mampu mengenali getaran ikan besar atau suara di dalam tanah bisa terdeteksi. Jangkauan pemantauannya cukup luas, dan bisa mencapai hingga 100 meter dari kabel. Riset yang tengah dikembangkan ini didukung oleh mitra dari Prancis dan sedang divalidasi menggunakan seismograf.
“Kita bisa mendapatkan data real time dari apa yang ada di lautan Indonesia,” pungkas Wiwit.

