• 25 February 2026

Lubang Aceh Tengah Dipicu Erosi Bawah Permukaan

uploads/news/2026/02/lubang-aceh-tengah-dipicu-4362331288d819f.jpeg

Jagad Tani - Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo mengungkapkan bahwa longsoran tanah yang sudah menjadi lubang raksasa di Desa Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, belum sepenuhnya aman karena masih terdapat pergerakan tanah dan air di bawah permukaan. 

Lokasi longsoran yang terus meluas dan menggerus persawahan hingga mendekati jalan penghubung Aceh Tengah–Bener Meriah. Saat berada di lokasi, Dody merasakan getaran tanah dan mendengar sedikitnya tiga kali suara runtuhan dari area longsoran, meski posisinya berada sekitar 20 meter dari titik lubang besar.

Baca juga: Jawab Tantangan Pertanian, Polisi Pakai Skema Ini

“Tadi pas kita ke sana kan terasa seperti gempa. Itu berarti area tersebut belum 100% aman, karena di bawahnya masih ada pergerakan air. Penanganan longsoran ini harus dilakukan secara maksimal dan komprehensif,” ujar Dody dalam keterangan resminya, dikutip Senin (09/02).

Berdasarkan data Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh, luas longsoran yang pada 2021 tercatat sekitar 20.199 meter persegi kini telah berkembang menjadi sekitar 30 ribu meter persegi. Artinya, terjadi penambahan area longsoran sekitar 10 ribu meter persegi dalam lima tahun terakhir.

Badan Geologi Kementerian ESDM menjelaskan bahwa gerakan tanah di lokasi tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain jenis batuan yang mudah terlepas saat terkena air, kemiringan lereng, erosi lateral, serta sistem drainase yang membuat lereng menjadi jenuh dan tidak stabil.

Tim Badan Geologi yang melibatkan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) serta Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan masih melakukan kajian lanjutan untuk pemutakhiran data. Hasil analisis awal menyebutkan bahwa fenomena di Aceh Tengah ini bukan sinkhole, melainkan piping erosion atau erosi bawah permukaan. Kesimpulan akhir akan disampaikan setelah seluruh proses kajian rampung.

Sementara itu, laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tengah mencatat bahwa longsoran tanah di kawasan tersebut telah muncul sejak awal 2000-an dalam bentuk lubang kecil, lalu terus bergerak secara bertahap sejak 2004.

Pada 2006, longsoran sempat memutus akses jalan Blang Mancung–Simpang Balik yang menjadi jalur penghubung utama Aceh Tengah dan Bener Meriah. Bahkan, pada 2013–2014, pemerintah melakukan relokasi warga dari Kampung Bah Serempah ke Kampung Serempah Baru akibat ancaman longsoran. Rehabilitasi dan rekonstruksi wilayah tersebut telah dilakukan dalam tiga tahap pada periode yang sama.

Related News