Ikan Dewa Mati Massal, Ini Kata Pakar
Jagad Tani - Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Sri Nuryati, menyoroti kematian mendadak ikan dewa (Tor soro) di Kuningan yang hanya menyisakan sekitar 200 ekor menjadi perhatian serius.
“Ikan merupakan organisme akuatik yang sangat bergantung pada kondisi lingkungan perairan. Jadi, apapun yang terjadi di air, itu akan sangat berpengaruh kepada kondisi fisiologis ikan,” ungkapnya melalui keterangan tertulis di laman IPB, dikutip Jumat (13/02).
Baca juga: Tambak Udang Integrated Shrimp Farming Waingapu Dibangun
Menurutnya, insang sebagai organ yang langsung berinteraksi dengan air, menjadi bagian paling rentan terdampak perubahan kualitas lingkungan. Tingginya bahan organik, turunnya oksigen, serta perubahan suhu dapat memicu gangguan pada insang.
“Kondisi ini membuka peluang bagi mikroorganisme akuatik seperti bakteri, jamur, protozoa, maupun parasit multiseluler untuk menempel dan menginfeksi. Biasanya bakteri menjadi penginfeksi sekunder, sementara penginfeksi primer kadang berasal dari parasit, misalnya Lernaea sp.,” terangnya.
Sri menyebutkan bahwa laporan awal di Kuningan mengindikasikan adanya parasit cacing jangkar (Lernaea sp), namun penyebab pastinya harus melalui pemeriksaan laboratorium. Di samping itu, pemberian garam atau obat tanpa mengetahui penyebab utama sering kali tidak efektif.
Ia melanjutkan, jika kolam yang tidak dikuras dalam waktu lama, akan berpotensi menurunkan kualitas air. Sisa pakan yang tidak termakan akan terurai menjadi amonia yang bersifat toksik.
“Amonia itu tidak baik, ikan tidak bisa mentoleransi amonia pada konsentrasi tertentu. Itu bisa mengganggu dan akhirnya mati,” tutur Sri.
Adapun kepadatan ikan yang melebihi standar juga memperbesar risiko stres dan penyakit. Dalam kondisi wabah, ia menyarankan pemisahan ikan yang masih hidup ke perairan dengan kualitas memenuhi baku mutu budi daya, disertai aerasi untuk mencukupi kebutuhan oksigen.
Tidak hanya itu, perubahan suhu akibat hujan dapat menurunkan imunitas ikan. Ikan bersifat poikiloterm, yang berarti suhu tubuhnya bergantung pada lingkungan.
Terkait peluang pemulihan populasi ikan dewa, Sri menyatakan hal tersebut sangat ditentukan pada langkah penanganan, seperti perbaikan manajemen kualitas air serta peningkatan imunitas melalui pakan yang mengandung imunostimulan dari bahan alami yang berkhasiat untuk imunostimulasi dan fitoterapi.
“Harus ada manajemen kesehatan ikan. Airnya dikelola dengan baik dan imunitasnya ditingkatkan,” tegasnya.

