KWT Cendol Dawet: Ruang Kebersamaan Dalam Permukiman
Jagad Tani - Kelompok Wanita Tani (KWT) Cendol Dawet telah menjadi wadah kebersamaan dalam membangun kemandirian pangan bagi ibu-ibu di lingkungan permukiman Bumi Pelita Kencana, Pamulang, Tangerang Selatan, sejak berdiri pada 1 Agustus 2020. Kelompok ini resmi mendapatkan Surat Keputusan (SK) dari kelurahan pada 26 September 2020 dan hingga kini telah berjalan hampir enam tahun.
Ketua KWT Cendol Dawet, Emma Dwiyanti, menjelaskan bahwa nama “Cendol Dawet” dipilih karena memiliki filosofi kebersamaan. Seperti cendol yang terdiri dari banyak butiran namun menyatu dalam satu wadah, KWT ini menjadi tempat berkumpulnya banyak anggota dengan semangat guyub dan saling mendukung.
Baca juga: Pasar Petani Garuda Jadi Hub Petani Lokal
“Intinya kami ingin menjadi satu wadah yang rukun dan kompak. Banyak anggota, tapi menyatu,” ujar Emma.
Awal pembentukan KWT dilatarbelakangi oleh inisiatif warga untuk menanam tanaman pangan secara mandiri. Meski Emma belum terlibat langsung di awal pendirian, kegiatan pertanian terus berlanjut hingga kini. Hasil panen berupa sayuran dijual kepada ibu-ibu di lingkungan komplek.
“Untuk sementara, kami memang masih melayani kebutuhan internal. Hasil penjualan kami putar kembali untuk membeli benih dan media tanam,” jelasnya.
Berdiri di atas luas area tanam yang kurang dari 400 meter persegi, KWT Cendol Dawet mampu menghasilkan berbagai jenis sayuran yang rutin dipanen seperti kangkung, pokcoy, dan kembang kol.
Sistem pemasaran pun dilakukan melalui grup internal, di mana warga dapat memesan sebelum panen dan bahkan memetik sendiri sayuran yang dibelinya.
“Kalau sudah panen, ibu-ibu langsung datang dan metik sendiri. Ada sensasi tersendiri dan mereka senang,” kata Emma.
Dalam satu kali panen, kangkung dapat menghasilkan hingga hampir tiga kilogram atau sekitar 20 ikat, dengan harga Rp5.000 per ikat. Harga tersebut disesuaikan dengan harga pasar, namun tetap mempertimbangkan kualitas dan keberlanjutan usaha.
Selain pertanian, KWT Cendol Dawet juga mengembangkan perikanan skala kecil. Beberapa jenis ikan yang dibudidayakan antara lain lele, nila, patin, dan gurame. Sebagian bibit ikan diperoleh dari bantuan Musrenbang, sementara lainnya berasal dari usaha mandiri kelompok.
“Kalau panen ikan, kami tawarkan juga ke ibu-ibu. Ada yang minta mentah, ada juga yang sudah dimasak seperti mangut lele,” ujarnya.
KWT ini juga mengembangkan tanaman hias dan tanaman obat keluarga (TOGA), seperti sirih gading, anggrek, adenium, kelor, kunyit, temulawak, lengkuas, hingga tanaman cincau. Keanekaragaman tanaman tersebut menjadi bagian dari upaya edukasi dan pelestarian ekosistem lingkungan.
Dalam pengelolaan tanaman, KWT Cendol Dawet mengedepankan prinsip ramah lingkungan. Pupuk kimia dan pestisida sintetis dihindari, diganti dengan kompos dan metode alami demi menjaga keseimbangan tanah dan ekosistem.
Saat ini, kepengurusan inti KWT Cendol Dawet terdiri dari sekitar 15 orang, sementara anggotanya mencakup hampir seluruh ibu-ibu di lingkungan komplek.
Ke depan, kelompok ini berencana mengembangkan budidaya vanili serta memperkuat sektor perikanan sebagai langkah peningkatan nilai ekonomi.
“Kami belajar dari yang kecil. Yang penting jalan dulu, konsisten, dan terus berusaha,” tutup Emma.

