Pasar Petani Garuda Jadi Hub Petani Lokal
Jagad Tani - Pasar Petani Garuda yang berlokasi di Cibinong, Kabupaten Bogor, mulai beroperasi sebagai pusat penjualan tanaman dan produk pertanian lokal. Pasar ini dikelola oleh Paguyuban Pasar Petani Garuda dan telah berjalan sekitar 11 hari sejak mulai dibuka pada 26 Januari 2026.
Ketua Paguyuban Pasar Petani Garuda, Ruslan, menjelaskan bahwa pasar tersebut menghadirkan beragam komoditas pertanian, mulai dari tanaman buah, tanaman hias, bonsai, media tanam, pupuk, hingga batu alam. Ke depan, pengelola juga berencana melengkapi komoditas dengan anggrek, anggur, serta tanaman pelindung.
Baca juga: Teknologi Pertanian Bisa Menjadi Kunci Produktivitas Hortikultura
“Yang ada di sini tanaman buah, tanaman hias, bonsai, media tanam, pupuk, dan batu alam. Ke depan kita lengkapi lagi, ada anggrek, anggur, sampai tanaman pelindung. Ini kan baru jalan sekitar 10–11 hari, jadi masih terus berbenah,” ujar Ruslan kepada Jagad Tani, Rabu (04/02).
Ruslan menyebutkan, mayoritas pedagang yang menempati Pasar Petani Garuda berasal dari Kecamatan Cibinong, dengan sebagian lainnya dari Kecamatan Bojonggede. Para pedagang tersebut umumnya merupakan petani aktif yang bergerak di bidang pembibitan tanaman buah dan tanaman hias.
“Yang paling banyak memang dari Kecamatan Cibinong. Ada juga dari Bojonggede, tapi rata-rata mereka sudah lama berkegiatan di pertanian dan pembibitan,” katanya.
Saat ini, Pasar Petani Garuda menampung 74 stand, di mana masing-masing stand dikelola petani dengan merek atau brand sendiri. Komoditas yang diperdagangkan pun didominasi oleh bibit tanaman.
Ke depan, Pasar Petani Garuda mengusung konsep pameran pertanian setiap hari. Tanaman yang dipajang merupakan tanaman siap jual dengan kualitas optimal, termasuk tanaman buah yang sudah berbuah.
“Kalau pameran biasanya kan ada waktu tertentu. Nah, di sini kita bikin pameran setiap hari. Tanaman yang masuk ke sini memang sudah layak jual dan bagus,” jelas Ruslan.
Meski demikian, penjualan buah segar akan dilakukan dengan konsep bazar yang bersifat temporer. Selain itu, kawasan pasar juga akan dilengkapi dengan area UMKM, mulai dari penjualan makanan dan minuman hingga rencana pembangunan coffee shop dengan konsep river view di tepi sungai.
“Tujuannya supaya bisa menarik anak muda juga. Jadi bukan cuma jual bibit, tapi bisa jadi tempat nongkrong,” tambahnya.
Tak hanya sebagai pusat perdagangan, Pasar Petani Garuda juga dirancang sebagai pusat edukasi. Pengelola berencana menggelar berbagai pelatihan, mulai dari pelatihan pertanian untuk anak TK dan SD hingga pelatihan barista bagi Karang Taruna.
“Pelatihannya nanti dilaksanakan oleh Forum Komunikasi Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya Kabupaten Bogor (FK-P4S),” jelas Ruslan.
Ruslan mengungkapkan, gagasan pendirian Pasar Petani Garuda telah muncul sejak sekitar tujuh tahun lalu. Para petani sebelumnya kerap berpindah lokasi akibat keterbatasan lahan dan kepastian tempat berjualan. Hingga akhirnya, keinginan tersebut mendapat dukungan dari Bupati Bogor, Rudy Susmanto.
Baca juga: 5 Tanaman Pertanian yang Tumbuh di Greenland
“Awalnya komunikasi itu Desember 2024. Kita intens komunikasi dengan Pak Bupati, dan alhamdulillah akhir Desember 2025 mulai dibangun. Akhir Januari 2026 kita sudah mulai menempati dan berjualan,” ungkapnya.
Sebagai petani, Ruslan sendiri telah berkecimpung di dunia pertanian sejak 2010. Ia memiliki usaha pembibitan tanaman buah dengan spesialisasi anggur impor dan alpukat, yang berlokasi di Kelurahan Sukahati, Kecamatan Cibinong, dengan luas lahan sekitar 8.500 meter persegi.
“Kalau di sini konsepnya workshop dan tempat jualannya saja. Tapi kebun kita (yang berjualan di sini) ada yang di Sukahati, Kelurahan Tengah, Pakansari, Nanggewer, ada juga yang di Ciriung,” pungkasnya.

