• 25 February 2026

Produksi Kakao Naik, Ekspor Tembus US$2,65 Miliar

uploads/news/2026/02/produksi-kakao-naik-ekspor-43692195b082509.jpg

Jagad Tani - Jumlah produksi kakao Indonesia diproyeksikan akan terus alami peningkatan pada tahun 2026. Di sisi perdagangan saja, nilai ekspor kakao Indonesia pada tahun 2024, sudah mencapai 348 ribu ton dengan nilai sebesar US$ 2,65 miliar.

Melalui data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah oleh Direktorat Jenderal Perkebunan, tren ekspor kakao Indonesia dalam periode 2021-2025 menunjukkan peran signifikan di pasar global, dengan sejumlah negara tujuan utama di kawasan Asia, Eropa, dan Amerika.

Baca juga: Tambak Udang Integrated Shrimp Farming Waingapu Dibangun

Berdasarkan data Statistik Perkebunan, produksi kakao pada tahun 2024 tercatat sebesar 617 ribu ton dari luas areal 1,37 juta hektare. Pada tahun 2025 (angka sementara) produksi berada di kisaran 616 ribu ton, dan pada 2026 diproyeksikan naik menjadi 635 ribu ton dengan luas areal mencapai 1,38 juta hektare.

Bahkan sekitar 99% kebun kakao nasional dikelola oleh perkebunan rakyat dengan kontribusi produksi mencapai lebih dari 616 ribu ton pada 2024. Tercatat ada sekitar 1,50 juta kepala keluarga pekebun menggantungkan hidup pada kakao.

Salah satunya, di Sulawesi masih menjadi tulang punggung produksi nasional dengan kontribusi lebih dari 60% atau sekitar 378 ribu ton. Sementara Sumatera menyumbang sekitar 164 ribu ton. Untuk penyumbang produksi utama dari Lampung dan Sumatera Utara.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Perkebunan Abdul Roni Angkat dalam keterangan tertulisnya menyatakan jika lonjakan harga kakao domestik pada 2025 sejalan dengan kenaikan harga biji kakao fermentasi internasional.

“Perkembangan harga kakao domestik tahun 2025 bergerak mengikuti tren harga global yang mengalami penguatan signifikan. Ini menjadi peluang besar bagi pekebun untuk meningkatkan pendapatan. Karena itu, kami mendorong peningkatan kualitas, terutama fermentasi, agar harga di tingkat pekebun bisa optimal,” terangnya.

Momentum harga tinggi, menurut Roni, harus dimanfaatkan guna mempercepat transformasi sektor kakao berbasis hilirisasi. Utamanya dalam mendorong penguatan industri pengolahan, mulai dari biji fermentasi, cocoa liquor, cocoa butter, hingga produk cokelat jadi, agar nilai tambah tidak berhenti di hulu.

“Dengan perbaikan produktivitas dan kualitas, kita tidak hanya memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen, tetapi juga sebagai pemain penting dalam rantai pasok kakao olahan dunia. Hilirisasi adalah strategi untuk menjaga stabilitas harga, meningkatkan daya saing, dan memastikan kesejahteraan pekebun,” sambungnya.

Melalui basis areal perkebunan yang lebih dari 1,3 juta hektare dan jutaan petani yang terlibat, kakao mempunyai peran strategis dalam memperkuat ekonomi daerah, khususnya di kawasan timur Indonesia.

“Proyeksi peningkatan produksi pada 2026 diharapkan menjadi titik balik kebangkitan kakao nasional menuju sistem usaha yang lebih produktif, berkelanjutan, dan bernilai tambah tinggi,” tukas Roni.

Related News