Pemberdayaan Perempuan Perkuat Pertanian Ramah Lingkungan Lokal
Jagad Tani - Di hadapan anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Mawar Desa Jambu, Kecamatan Tugu, Trenggalek, Jawa Timur, Anggota DPR RI Novita Hardini menekankan pentingnya membangun daerah tanpa mengeksploitasi alam. Menurutnya, pembangunan harus berpijak pada keberlanjutan dan kekuatan komunitas perempuan.
“Kita ingin membangun ketahanan pangan, ketahanan lingkungan, dan ketahanan perempuan. Jangan sampai eksploitasi hari ini mengorbankan masa depan anak cucu kita,” terang Novita Hardini.
Baca juga: Jumlah Produksi Jagung Pangan Terus Alami Peningkatan
Melalui program tersebut, KWT didorong menjadi pionir pengolahan sampah organik rumah tangga, limbah dapur SPPG, hingga limbah produksi menjadi pupuk organik. Langkah ini dinilai mampu menjawab dua persoalan sekaligus, yaitu mahalnya pupuk dan meningkatnya volume sampah.
Ia juga menekankan pentingnya pengelolaan minyak jelantah dan pemilahan sampah secara terstruktur agar tidak lagi dibakar atau dibuang sembarangan.
“Kita ingin Trenggalek menuju zero sampah. Sampah tidak boleh dibakar, harus diolah agar punya nilai ekonomi,” ujar Legislator Dapil Jawa Timur VII yang meliputi Ngawi, Ponorogo, Trenggalek, Pacitan dan Magetan ini.
Gerakan tersebut, lanjutnya, sejalan dengan target pembangunan rendah emisi di daerah, sekaligus memperkuat posisi perempuan sebagai penggerak ekonomi berbasis lingkungan.
Sebelumnya pada Kamis (12/02) Novita juga melakukan kunjungan ke KWT Desa Munjungan, Kecamatan Munjungan, Kabupaten Trenggalek. Pada kesempatan tersebut Novita juga mendorong peran strategis perempuan dalam mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos. Hal ini dinilai bisa menjadi solusi atas kelangkaan dan mahalnya harga pupuk.
“Di satu sisi pupuk sulit dan mahal, di sisi lain sampah organik melimpah dan mencemari lingkungan. Jika dikelola dengan baik oleh KWT, ini bisa menjadi solusi yang berkelanjutan,” papar Novita yang bertugas di Komisi VII DPR RI itu.
Ia mengajak perempuan memanfaatkan lahan pekarangan untuk menanam sayur dan buah guna menekan biaya hidup keluarga.
Menurutnya, pemberdayaan perempuan di sektor pertanian tidak hanya berdampak pada ekonomi rumah tangga, tetapi juga menjadi jawaban konkret atas persoalan lingkungan.
“Kita dukung target Net Zero Carbon dengan memberdayakan KWT. Sampah organik harus diolah, bukan dibuang. Ini tentang membangun ekosistem yang berkesinambungan,” tukasnya.

