Wabah Demam Babi Afrika, Serang Peternakan Korsel
Jagad Tani - Wabah demam babi Afrika (ASF) telah terdeteksi di Hongseong, Provinsi Chungcheong Selatan, yang merupakan kompleks peternakan babi terbesar di Korea Selatan, sehingga otoritas karantina meningkatkan kewaspadaan.
Melansir KBS World, Markas Besar Penanggulangan Bencana menyatakan bahwa demam babi Afrika telah dikonfirmasi ditemukan di peternakan babi di Hongseong, Provinsi Chungcheong Selatan, yang memelihara sekitar 2.900 ekor babi.
Baca juga: Jumlah Produksi Jagung Pangan Terus Alami Peningkatan
Pihak berwenang telah membatasi akses keluar masuk peternakan dan tengah melakukan penyelidikan epidemiologis, serta berencana memusnahkan seluruh babi yang dipelihara di peternakan tersebut.
Pihaknya juga meminta pekerja dan kendaraan untuk berhenti sementara selama 48 jam di fasilitas peternakan di lima wilayah di Provinsi Chungcheong Selatan, yakni Hongseong, Seosan, Yesan, Cheongyang, dan Boryeong.
Selain di Hongseong, menurut markas besar manajemen bencana pusat untuk ASF, kasus demam babi Afrika juga telah dikonfirmasi melanda Jeongeup, Provinsi Jeolla Utara, dan Gimcheon, Provinsi Gyeongsang Utara, sehingga total kasus demam babi Afrika tahun ini meningkat menjadi 14 kasus.
Berdasarkan data dari Yonhap News Agency, kasus terkonfirmasi pertama di Korea Selatan tahun ini pada tanggal 16 Januari 2026. Petugas karantina telah dikirim ke peternakan yang baru-baru ini terdampak untuk melakukan investigasi epidemiologi, dan berencana untuk memusnahkan sekitar 10.000 babi yang dipelihara di peternakan, guna mencegah penyebaran penyakit lebih lanjut.
Adapun kemungkinan penyebaran ASF lebih lanjut selama liburan Tahun Baru Imlek, otoritas karantina mengatakan bahwa mereka akan melakukan pemeriksaan pada semua sekitar 4.800 peternakan babi di seluruh negeri pada tanggal 28 Februari mendatang.
Mereka juga berencana untuk memperkuat penindakan terhadap distribusi produk ternak impor ilegal karena investigasi epidemiologis terhadap kasus-kasus sebelumnya mengkonfirmasi kemungkinan bahwa ASF masuk melalui produk hewan yang tidak sah.

