Pedagang Bandeng Imlek, Palang Pintu Tradisi Gastronomi
Jagad Tani - Menjelang perayaan Imlek, biasanya tampak sejumlah pedagang ikan bandeng berjualan di kawasan Pasar Rawa Belong, Jakarta Barat. Ikan bandeng merupakan simbol rezeki dan kemakmuran yang selalu diburu warga, khususnya bagi masyarakat Betawi dan Tionghoa.
Keberadaan pedagang bandeng jelang perayaan Imlek ini tentu bukan sekadar fenomena musiman, melainkan sebagai palang pintu yang menjaga kesinambungan tradisi lintas budaya. Di ruang inilah nilai-nilai budaya saling berjumpa, dipertemukan oleh satu komoditas bernama ikan bandeng.
Baca juga: Produksi Kakao Naik, Ekspor Tembus US$2,65 Miliar
Ini tentunya menjadi menarik, karena terjadi asmilasi antara budaya dan makanan (gastronomi) di situ. Salah satu pedagang bandeng, Ata, mengaku telah berjualan di kawasan tersebut sejak tahun 1980. Saat itu, ia masih menjadi satu-satunya pedagang bandeng di lokasi tersebut. Seiring waktu, semakin banyak pedagang yang mengikuti jejaknya.
"Kalau saya dagang pribadi dari tahun 1980. Dulu masih sendiri, sekarang mah sudah banyak yang ikut-ikutan,” ujar Ata saat ditemui tim Jagad Tani di lapaknya.
Harga ikan bandeng jelang Imlek pun bervariasi, tergantung ukuran. Bandeng ukuran kecil dijual mulai dari Rp60.000 per kilogram, ukuran sedang Rp70.000 per kilogram, hingga bandeng besar yang bisa mencapai berat lebih dari 3 kilogram dijual seharga Rp80.000 per kilogram. Bandeng berukuran besar ini menjadi incaran utama pembeli jelang Imlek.
“Ikan gede begini biasanya pas Imlek aja adanya. Kalau bukan musim Imlek, paling cuma bandeng yang berukuran sekitar 6-7 ons yang dijual seharga Rp35.000 per ekor,” terangnya.
Menurut Ata, seluruh ikan bandeng yang dijualnya didatangkan langsung dari Indramayu dan dijamin segar. Ia menegaskan hanya menjual ikan dengan kualitas terbaik, dan ditandai dengan insang berwarna merah cerah.
“Kalau enggak fresh, saya enggak jual. Lihat nih insangnya masih merah banget, cakep,” ujarnya.
Untuk pengolahan, bandeng biasanya dimasak menjadi pindang atau pesmol, dua menu favorit masyarakat Betawi. Selain untuk konsumsi keluarga, bandeng juga kerap dibeli sebagai hantaran Imlek, lengkap dengan pelengkap seperti petai dan kecap manis.
Meski ramai saat Imlek, Ata optimistis usaha ikan bandeng masih memiliki prospek cerah ke depan. Ia juga melayani pembelian dengan sistem antar ke alamat pembeli tanpa tarif ongkos kirim tetap.
“Buka dari jam enam pagi sampai jam sembilan malam. Kalau diantar, paling kebijaksanaan pembeli aja buat bensin,” jelasnya.
Melalui aktivitas para pedagang bandeng seperti Ata, tradisi kuliner jelang perayaan Imlek ini bisa terus hidup dan beradaptasi dengan zaman. Pasar menjadi ruang sosial tempat memori kolektif dirawat tentang rasa, kebiasaan, hingga nilai kebersamaan.
Hal inilah yang menjadikan pedagang bandeng bukan sekadar pelaku ekonomi, melainkan penjaga gerbang tradisi gastronomi yang memastikan warisan budaya tetap lestari di tengah dinamika kota dan perubahan zaman.

