• 19 February 2026

Harga Cabai Pasar Induk Kramat Jati Turun

uploads/news/2026/02/harga-cabai-pasar-induk-7852444ae601b5a.jpeg

Jagad Tani - Jelang Ramadan, cabai rawit merah di Pasar Induk Kramat Jati (PIKJ) mengalami penurunan harga. Para pedagang mengakui, tambahan pasokan dan pentingnya dukungan fasilitas distribusi dari pemerintah berperan dalam menekan lonjakan harga menjelang puasa dan Idulfitri.

“Sebelumnya harga bisa di kisaran Rp90.000-an. Dengan kondisi sekarang, bisa turun sekitar Rp5.000 menjadi Rp85.000 atau bahkan Rp80.000 tergantung hasil tawar-menawar. Pembeli biasanya mulai menawar di Rp80.000, bahkan Rp70.000–Rp80.000,” terang Ujang, salah satu pedagang cabai di PIKJ kepada Badan Pangan Nasional, dikutip Selasa (17/02). 

Baca juga: Otoritas India Temukan McDonald’s Berbahan Tidak Layak

Adapun pedagang lainnya, yakni H. Joharlis, menilai masuknya pasokan dari luar daerah, termasuk dari Sulawesi Selatan, membantu menjaga harga tetap terkendali.

“Harganya sudah turun sedikit. Kalau tidak dibantu dari Makassar, harga cabai bisa saja mencapai Rp150 ribu. Biaya distribusinya sekitar Rp9 ribu sampai Rp10 ribu. Dalam kondisi seperti ini, kalau ongkosnya dibantu, harga bisa ditekan. Jika biaya distribusi digratiskan, pedagang tidak akan berani menaikkan harga sehingga harga tetap bisa dikendalikan,” ungkapnya.

Sementara itu, Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa menjelaskan bahwa secara nasional produksi cabai rawit dalam kondisi cukup. Kenaikan harga yang terjadi sebelumnya lebih dipengaruhi kendala teknis di distribusi.

“Memang ada dua problem, yang pertama adalah secara prinsip pasokan atau stoknya tinggi, cukup produksinya tinggi, tapi problemnya dalam petik. Pada saat hujannya tinggi, tenaga kerja yang memetik tidak ada, tidak berani karena akan cepat busuk,” jelas Ketut. 

Selain faktor cuaca, momentum libur juga memengaruhi ketersediaan tenaga kerja panen sehingga pasokan yang masuk ke pasar sempat terkoreksi.

“Secara produksi sangat cukup, jadi itu bedanya ya, produksinya sangat cukup, metiknya yang takut, karena hujan dan lain sebagainya, mereka tidak berani metik karena akan langsung busuk,” sambungnya.

Guna mempercepat stabilisasi itu, Ketut menerangkan jika Bapanas akan mengoptimalkan Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP), terutama dengan membantu menekan ongkos angkut dari sentra produksi ke Jakarta yang saat ini berkisar Rp9.000–Rp10.000 per kilogram.

Pasokan tambahan difokuskan dari Jawa Barat sebagai sentra terdekat serta dari Sulawesi Selatan, termasuk Kabupaten Enrekang, yang telah menyatakan kesiapan memasok cabai rawit ke Jakarta. Sehingga harga di tingkat pasar induk segera diikuti di tingkat pasar turunan.

 

 

Related News