• 27 February 2026

Pemanfaatan Biofuel Nyamplung, Percepat Transisi Energi Bersih

uploads/news/2026/02/penelitian-brin-ubah-nyamplung-5604661fda67ee5.png

Jagad Tani - Inovasi pemanfaatan biomassa hutan sebagai sumber bahan bakar nabati (BBN) atau biofuel dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak (BBM). Salah satu komoditas yang diteliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) adalah jenis tanaman nyamplung (Calophyllum inophyllum). 

Tanaman tersebut merupakan spesies asli Indonesia, dan menjadi sumber bioenergi potensial dari hutan. Adapun riset yang dilakukan mencakup aspek perbenihan, teknik silvikultur intensif dan pemuliaan pohon untuk peningkatan produktivitas biji, peningkatan rendemen minyak dan teknologi pengolahan crude oil menjadi biofuel.

Baca juga: Kenali Rentang Usia Ayam dari Warna Telurnya

“Minyak nyamplung atau Tamanu crude Oil (TCO) berpotensi besar untuk diproses menjadi bahan baku biofuel atau bakar ramah lingkungan seperti biokerosin, biodiesel, dan bioavtur/sustainable aviation fuel (SAF),” ucap Peneliti Pusat Riset Botani Terapan BRIN, Budi Leksono, dalam keterangannya, dikutip Jumat (20/02).

Menurut Budi, pendekatan ini bukan untuk mengeksploitasi hutan, melainkan untuk mengoptimalkan pengelolaan hutan berkelanjutan berbasis sains. Selain berpotensi sebagai bahan baku biofuel non-pangan (non-edible oil), limbah industri biofuel nyamplung, seperti cangkang buah, bungkil biji, resin/gum, gliserol, dll., juga dapat dimanfaatkan.

Adapun produknya dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi seperti arang aktif dan pelet dengan nilai kalor tinggi, pakan ternak dengan protein tinggi, biofarmaka (obat dan kosmetik herbal), sabun herbal, dll. BRIN mendorong agar hasil riset tidak berhenti pada skala laboratorium, tetapi terhubung dengan kebutuhan industri.

“Teknologi konversi biomassa sudah banyak dikaji dan terbukti layak secara teknis. Tantangannya adalah bagaimana mempercepat hilirisasi dan memastikan dukungan kebijakan yang konsisten,” jelasnya.

Budi menyebut bahwa inovasi biomassa hutan dinilai strategis, karena memanfaatkan sumber daya domestik melimpah, memberikan nilai tambah ekonomi dalam negeri, mendukung pengurangan emisi karbon dan komitmen transisi energi bersih, serta memperkuat ketahanan energi berbasis sumber daya hayati untuk kemandirian energi.

“Indonesia sebenarnya tidak kekurangan energi. Kita hanya belum optimal memanfaatkan potensi biomassa hutan sebagai sumber energi terbarukan,” tambahnya.

Dilanjutkan bahwa pengembangan biomassa hutan menjadi biofuel merupakan bagian dari agenda BRIN di bidang energi baru dan terbarukan. Melalui pendekatan multidisiplin dari hulu hingga hilir, mulai dari aspek budi daya tanaman, optimalisasi produktivitas, hingga proses konversi menjadi bahan bakar yang ramah lingkungan.

“Kita memiliki sumber daya dan kapasitas ilmiah yang memadai. Yang dibutuhkan adalah konsistensi riset, inovasi, dan sinergi kebijakan. Hal ini juga membuka peluang Indonesia untuk kembali menjadi negara produsen atau pengekspor minyak, kalau dulu eksportir BBM maka ke depan dalam bentuk BBN,” pungkasnya.

Related News