• 25 February 2026

Ketahui Pangsa Pasar Bebek dari Bobotnya

uploads/news/2026/02/ketahui-pangsa-pasar-bebek-3190977f7e80ec5.jpeg

Jagad Tani - Pemilihan ukuran bobot bebek menjadi faktor penting dalam menentukan pangsa pasar penjualan. Hal ini diungkapkan Suhendar, selaku pemilik dari Peternakan Bebek Mina Alam Lestari yang berlokasi di Dramaga, Bogor.

Menurut Suhendar, pemasaran bebek yang ia lakukan selama ini terbagi berdasarkan bobot. Untuk kebutuhan hotel dan restoran, biasanya dibutuhkan bebek dengan bobot di atas 2 kilogram per ekor.

Baca juga: Inilah Komoditas Pertanian Bertarif 0% Amerika Serikat

Sementara itu, untuk bebek dengan bobot 1,9 kilogram ke bawah umumnya masuk kategori untuk masakan Nasi Bebek Madura. Ukuran ini diminati karena bisa dipotong menjadi delapan bagian, sehingga efisien untuk kebutuhan usaha kuliner.

“Kalau bobot 1,5 kilogram, di karkas bisa jadi sekitar 1 kilogram. Itu biasanya ukuran bebek untuk pecel lele,” ujarnya. Karena perbedaan kebutuhan pasar tersebut, setiap kali panen sekitar 1.000 ekor, hasil produksi Suhendar selalu terbagi ke beberapa segmen ukuran.

Dari sisi harga, Suhendar mengungkapkan bahwa kondisi pasar saat ini belum sepenuhnya stabil. Harga normal bebek hidup sebelumnya berada di kisaran Rp27.000–Rp28.000 per kilogram. Namun kini, harga rata-rata turun menjadi sekitar Rp25.000 per kilogram, bahkan sempat menyentuh Rp17.000 per kilogram.

“Bayangkan dari harga Rp27.000–Rp28.000 ke harga Rp17.000 per kilogram, jangankan untung, modal saja sudah termakan. Tapi mau tidak mau, daripada bebek kebesaran di kandang dan pakan terus keluar, ya tetap kita jual,” katanya.

Saat ini, kapasitas produksi peternakan baru berjalan sekitar 50%. Jika kondisi normal, kandangnya mampu memproduksi sekitar 10.000 ekor per bulan, dengan panen mingguan sekitar 2.500 ekor. Dalam perhitungan usaha, Suhendar menyebutkan keuntungan minimal berkisar Rp5 juta per 1.000 ekor. Artinya, saat produksi penuh 10.000 ekor per bulan, keuntungan bisa mencapai sekitar Rp30 juta.

“Itu sudah saya rasakan dulu. Dari bebek, saya bisa beli motor, bisa beli mobil,” tuturnya. Meski saat ini harga sedang turun, ia memilih tetap konsisten menjalankan usaha.

Peternakan miliknya menerapkan sistem panen cepat, yakni setiap 40 hari dengan bobot minimal 1,9 kilogram per ekor hingga maksimal 2,4 kilogram. Dengan pola tersebut, dalam setahun peternakan bisa melakukan panen sebanyak 8 hingga 9 kali.

“Makanya saya pilih bebek hibrida dan bebek peking, karena perputarannya cepat,” pungkas Suhendar.

Related News