• 26 February 2026

Lika-Liku Perjalanan Seorang Arsitek Menjadi Petani Selada

uploads/news/2026/02/lika-liku-perjalanan-seorang-arsitek-480820c290e1dc7.jpeg

Jagad Tani - Perjalanan dalam berbisnis memang tidak selalu mulus seperti jalan tol. Hal itulah yang dialami Erry Silalahi, pemilik Hidrotan yang berlokasi di Serua, Tangerang Selatan, yang dimulai sejak tahun 2024 dan kini memasuki tahun kedua usahanya, Erry mengaku sempat mengalami kerugian ratusan juta rupiah sebelum akhirnya menemukan pasar yang tepat.

Erry sebenarnya bukan pendatang baru di dunia tanam-menanam. Ia sudah hobi berkebun sejak tahun 2010. Namun, keputusan serius terjun ke bisnis pertanian diambil saat pandemi Covid-19 melanda. Berprofesi sebagai arsitek, proyek-proyeknya terhenti selama hampir tiga tahun.

Baca juga: Mempertahankan Peluang Budidaya di Tengah Badai Penurunan

“Waktu itu proyek berhenti total. Saya coba tanam melon di rooftop, bikin greenhouse 80 meter persegi. Dua kali panen bagus, setelah itu sembilan kali panen rasanya tidak pernah manis,” ujarnya saat ditemui Rabu pagi (25/02).

Selama 18 bulan mencoba, hasil yang tidak konsisten membuatnya membongkar seluruh instalasi melon. Ia kemudian beralih ke hidroponik, terinspirasi dari rekan-rekannya yang sukses di bidang tersebut.

Di awal merintis hidroponik, Erry menanam 12 jenis sayuran, mulai dari bayam, kangkung, pakcoy, caisim, kale hingga kailan. Namun persoalan muncul di pemasaran.

Ia mengaku pernah membuang hingga 80 kilogram sayuran karena tidak terserap pasar. “Waktu itu saya jual ke perorangan. Besok ditanya lagi, sudah pada punya. Sedangkan sayur kan keburu layu kalau tidak laku. Akhirnya karena nggak ada yang beli, saya buang ke kali,” katanya.

Biaya operasional yang tidak kecil, termasuk gaji karyawan sekitar Rp2 juta per bulan dan pembuatan meja tanam seharga Rp5-7 juta per unit, membuatnya hampir menyerah. Total kerugian yang ia keluarkan kala itu ditaksir mencapai Rp100 juta.

"Jejeran selada keriting segar yang ada di salah satu meja instalasi hidroponik milik Erry (Foto: Rahmat Iskandar Rizki)"

Berkat dorongan dari sang istri membuatnya bertahan. Ia mulai mengevaluasi model bisnis dan melihat peluang pada satu komoditas yakni selada.

Erry melihat banyak petani hidroponik skala besar yang fokus pada selada. Ia pun memutuskan mengerucutkan produksi dan membidik pasar bisnis-ke-bisnis (B2B), seperti pedagang ayam bakar, burger, kebab, hingga katering.

Strategi yang ia terapkan sederhana namun efektif, mulai dari menjaga kualitas, harga stabil Rp25-30 ribu per kilogram, layanan pengantaran gratis, serta sistem titip bayar keesokan harinya.

"Tampak Erry menenteng beberapa kantong kresek setelah selada, setelah selesai memanen untuk diantarkan kepada pelanggan (Foto: Rahmat Iskandar Rizki)"

Strategi tersebut membuahkan hasil. Kini ia mampu menjual 10-15 kilogram selada keriting sementel per hari dengan pelanggan rutin yang tidak boleh dikecewakan. Sesekali, pesanan besar hingga 15 kilogram datang dari katering atau pelaku usaha kuliner.

“Selada saya bisa tahan tiga hari tidak layu, harga lebih murah, tidak pahit, dan hampir tidak ada yang terbuang,” ujarnya. 

Perjalanan usaha Erry juga diwarnai berbagai tantangan. Serangan jamur yang dikenal sebagai “mata kodok” pernah memaksanya membuang hasil panen dari 12 meja tanam sekaligus. Jamur tersebut muncul saat musim hujan akibat kelembapan tinggi.

Selain itu, kebun hidroponiknya juga pernah terendam banjir setinggi hampir satu meter yang merendam meja instalasi tanamnya. Namun ia terus bangkit, yang dari awalnya berjumlah empat meja tanam, kini usahanya terus berkembang dan berencana menambah enam meja lagi.

Dalam operasional, Erry rutin mengecek pH dan nutrisi setiap hari. Benih pun ia pilih yang impor dengan harga sekitar Rp300 per butir karena dinilai lebih stabil dibanding benih lokal yang tingkat tumbuhnya tidak merata.

"Selada keriting sementel di Hidrotan (Foto: Rahmat Iskandar Rizki)"

Dari sisi instalasi, Erry kini lebih memilih sistem paralon dibanding talang. Selain lebih mudah dibersihkan, kapasitas tanam paralon bisa mencapai 500 tanaman per meja, dua kali lipat dibanding talang yang hanya sekitar 250 tanaman.

Menurutnya, konsistensi kualitas adalah kunci mempertahankan pelanggan. “Kalau sudah skala produksi, tidak bisa coba-coba. Sekali kualitas turun, klien bisa pindah,” katanya.

Bahkan berkat konsistensi tersebut, ia saat ini cukup banyak melayani pesanan dan repeat order dari para pembeli, dan sempat menolak beberapa tawaran yang datang dari retail besar, karena keterbatasan kapasitas produksi dan sedang berfokus pada pengembangan, serta kualitas produk usahanya.

Meski demikian, ia tetap berhati-hati dalam ekspansi. “Dalam bisnis harus ada plan B. Jadi, jika sewaktu-waktu ada hal yang tak terduga kita bisa lebih siap,” ujarnya.

Kini, setelah melewati berbagai kegagalan dan tantangan, Erry optimistis Hidrotan akan terus berkembang. Ia percaya setiap orang memiliki “rezeki tanaman-nya” masing-masing.

“Teman saya sukses di kangkung. Mungkin rezeki saya di selada,” pungkasnya.

Related News