Mempertahankan Peluang Budidaya di Tengah Badai Penurunan
Jagad Tani - Budidaya burung putar pelung meski tengah mengalami penurunan lomba, namun hingga kini masih diminati sebagai hobi produktif yang tidak hanya untuk hiburan, tapi juga peluang ekonomi. Hal ini disampaikan oleh Solikhudin, owner Tarik Bird Farm yang berlokasi di Ciledug, Kota Tangerang, yang telah lama menekuni dunia ternak burung anggungaan.
Solikhudin menjelaskan, usaha ternaknya bermula dari burung perkutut dan tekukur, seiring berjalannya waktu, ia mulai mengembangkan putar pelung yang kemudian berjalan beriringan dengan ternak tekukur.
Baca juga: Pasar Petani Garuda Jadi Hub Petani Lokal
Menurutnya, hingga saat ini masih banyak pemula yang keliru dalam membedakan antara putar pelung dengan putar lokal karena bentuk fisik dan warnanya nyaris sama.
“Kalau secara fisik itu sama, ukurannya sama, warnanya juga sama. Yang membedakan putar pelung dan putar lokal itu di suara. Putar pelung suaranya panjang, berirama, sedangkan putar lokal cenderung pendek,” ujar pria yang akrab disapa pak Udin ini.
Akan tetapi, Udin menilai bahwa suara menjadi ciri utama yang tidak bisa dimanipulasi. Putar pelung memiliki karakter bunyi melung panjang yang ditutup dengan “kuok” khas, yang menjadi penilaian utama dalam kontes.
“Ciri khasnya dari suara itu sudah enggak bisa dibohongin. Putar pelung itu melung panjang dan ditutup kuok yang bagus,” katanya.
Selain bernilai lomba, putar pelung juga dikenal sebagai burung hiburan yang menenangkan. Solikhudin menyebut mendengarkan suara putar pelung di suasana sunyi, terutama malam hari, memberikan efek relaksasi.
“Kalau malam hari pas sunyi dengar putar pelung itu sangat indah, bikin tenang, sangat-sangat menenangkan,” ujarnya.
Dari sisi budidaya, Solikhudin menilai putar pelung relatif mudah diternakkan dan aman dipelihara, bahkan di dalam rumah. Selama kebersihan kandang, pakan, dan air minum terjaga, risiko penyakit tergolong rendah.
“Burung anggungan seperti perkutut, tekukur, putar pelung itu hampir enggak ada penyakit yang brutal. Intinya kebersihan kandang. Selama kotorannya kering, enggak ada bau menyengat,” jelasnya.
Pakan putar pelung juga tidak rumit. Jenisnya sama dengan burung anggungan lain, seperti millet, dan mudah diperoleh di toko burung. Tidak diperlukan perawatan atau pakan khusus, sehingga cocok bagi pemula.
Solikhudin menyebut orientasi ternak putar pelung umumnya mengarah ke lomba karena nilai jualnya yang jauh lebih tinggi. Untuk burung berkualitas bahkan sudah dipesan sejak masih telur atau anakan.
“Kalau kualitas (indukannya) bagus, itu belum ada telur saja sudah dipesan, sudah booking duluan. Anakannya yang baru bisa makan saja dulu bisa Rp3,5 juta sepasang,” ungkapnya.
Meski saat ini frekuensi lomba menurun dan harga sempat terkoreksi, ia menilai prospek putar pelung tetap terbuka sebagai hobi bernilai ekonomi. Menurutnya, penggemar sejati tidak akan meninggalkan putar pelung dan masih menyimpan burung-burung terbaiknya sambil menunggu bangkitnya kembali event lomba.
Ia pun menyarankan pemula agar tidak tergesa-gesa membeli burung tanpa pengetahuan dasar. Edukasi dan silaturahmi dengan peternak berpengalaman menjadi kunci.
Baca juga: Teknologi Pertanian Bisa Menjadi Kunci Produktivitas Hortikultura
“Jangan hanya dengar penjual. Harus belajar dulu apa yang dinilai di lomba. Sering-sering silaturahmi ke pemain yang benar-benar sudah di lapangan,” katanya.
Dengan perawatan yang sederhana, kebutuhan ruang yang minim, serta potensi ekonomi dan ketenangan yang ditawarkan, putar pelung dinilai Solikhudin sebagai salah satu pilihan budidaya burung yang layak dikembangkan, baik sebagai hobi rumahan maupun usaha skala kecil berbasis ternak.

