• 1 March 2026

Konflik Iran-Israel Bayangi Kinerja Ekspor Indonesia

uploads/news/2026/03/ekspor-produk-pertanian-indonesia-6602512923f56d3.jpeg

Jagad Tani - Eskalasi konflik antara Iran dengan Israel-Amerika Serikat (AS) yang kian memanas, bisa berdampak pada kelancaran rantai pasok perdagangan sejumlah negara pada tahun 2026. Kondisi ini juga berpotensi memengaruhi keberlanjutan kinerja perdagangan Indonesia dengan Iran yang sepanjang Januari-Desember 2025 menunjukkan tren positif.

Berdasarkan data dari Satuan Data Perdagangan Kementerian Perdagangan (Kemendag) tercatat bahwa nilai ekspor Indonesia ke Iran mencapai US$249,1 juta atau sekitar Rp4,18 triliun, tumbuh 20,79% secara tahunan (year on year/YoY).

Baca juga: Aktivitas Pedagangan Pasar Gambir Sumut Kembali Pulih

Di sisi lain, impor Indonesia dari Iran tercatat hanya sebesar US$8,8 juta dan turun tajam 20,01% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Dengan demikian, neraca perdagangan Indonesia terhadap Iran membukukan surplus sebesar US$240,3 juta, sehingga terjadi pertumbuhan sekitar 23,1% YoY.

Sejumlah produk ekspor Indonesia ke Iran masih didominasi oleh sejumlah komoditas pertanian yang menyerap sebagian besar perdagangan. Komoditas buah dan buah bertempurung (HS 08) menjadi penyumbang terbesar dengan nilai US$86,4 juta atau 34,7% dari total ekspor Indonesia ke Iran.

Di posisi berikutnya, kendaraan dan suku cadang (HS 87) mencatat nilai US$34,1 juta (menyumbang 13,7%). Selanjutnya minyak dan lemak nabati (HS 15) sebesar US$22,0 juta (8,8%), kayu dan produk kayu (HS 44) senilai US$20,0 juta (8,0%), serta kopi, teh, dan rempah (HS 09) sebesar US$19,2 juta (7,7%).

Dari sisi pertumbuhan, beberapa komoditas menunjukkan kenaikan signifikan. Ekspor kopi, teh, dan rempah tumbuh paling tinggi, yakni 79,41% dari tahun 2024. Disusul buah yang naik 49,59%, kayu dan produk kayu meningkat 22,3%, serta minyak nabati naik 19,83%.

Meski demikian, risiko terhadap stabilitas perdagangan kian meningkat seiring perkembangan politik Iran menemui babak baru. Sebab, dalam laporan media pemerintah Iran, Islamic Republic News Agency (IRNA) pada Minggu (01/03) mengkonfirmasi bahwa pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Khamenei gugur syahid dalam serangan AS-Israel.

Perkembangan tersebut diperkirakan dapat memicu ketidakpastian politik domestik serta gangguan distribusi, yang pada akhirnya dapat memengaruhi hubungan perdagangan Iran dengan negara mitra, termasuk Indonesia.

Related News