• 3 March 2026

Pengawasan Harga Pangan Ramadan di Pasar Diperketat

uploads/news/2026/03/pengawasan-harga-pangan-ramadan-47559348a7e2ac5.jpg

Jagad Tani - Guna memastikan harga dan pasokan pangan tidak melonjak, karena tingginya permintaan di tingkat konsumen selama Ramadan. Sekretaris Utama Badan Pangan Nasional (Bapanas), Sarwo Edhy, turun langsung ke Pasar Jonggol, pasar penyangga utama bagi wilayah Bogor, Bekasi, hingga Jakarta.

“Selama Ramadan pemerintah tidak boleh lengah. Kami turun langsung memastikan harga tetap terkendali dan distribusi berjalan lancar. Kalau ada yang tidak sesuai, akan langsung kami benahi di lapangan,” ucap Sarwo Edhy dalam keterangan tertulisnya, dikutip Senin (02/03).

Baca juga: Puluhan Tanduk Rusa Ilegal Diserahkan ke BKSDA

Berdasarkan hasil pemantauan tersebut, harga beras medium lokal berada di kisaran Rp 13.000/kg dan beras premium Rp 14.500/kg. Bawang merah Rp 40.000/kg dan bawang putih Rp 36.000/kg.

Adapun protein hewani seperti, daging ayam ras di kisaran harga Rp 40.000–42.000/kg, telur ayam Rp 30.000–32.000/kg, daging sapi lokal Rp 130.000–140.000/kg, serta daging sapi impor sekitar Rp 120.000/kg. Gula kemasan dijual Rp 19.000/kg dan gula curah Rp 18.000/kg.

“Harga daging sapi masih sama, saya jual Rp140.000 per kg. Kalau ada yang menawar, masih bisa saya kasih Rp130.000 per kg, karena pasokannya saya ambil langsung dari RPH Haji Donny yang lokasinya dekat sini,” ujar Sahril, seorang pedagang daging.

Sementara itu Yulis, salah seorang pembeli, menjelaskan soal alasannya dalam memilih berbelanja di pasar tradisional karena harga lebih kompetitif, serta harga yang masih terjangkau.

“Saya sudah langganan di sini. Hari ini beli daging untuk menu empal saat berbuka puasa nanti bersama anak-anak. Harapan kami sebagai masyarakat, semoga selama bulan puasa ini harga-harga kebutuhan pokok jangan sampai naik lagi,” ungkap Yulis.

Selain komoditas di atas, perhatian serius diberikan pada minyak goreng rakyat Minyakita yang masih dijual di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp 15.700 per liter. Di Pasar Jonggol, harga Minyakita ditemukan di kisaran Rp 18.000–18.500 per liter.

“Kenapa bisa Rp 18.000? Karena pedagang mengambil dari distributor sudah Rp 17.000 sampai Rp 17.500. Kalau dari hulunya sudah tinggi, pengecer tidak mungkin menjual sesuai HET,” urai Sarwo Edhy.

Padahal HET Rp15.700 per liter di tingkat konsumen. Adapun tata kelola harga Minyakita berjenjang, mulai dari tingkat produsen, distributor, hingga pengecer, skema ini dirancang agar setiap mata rantai distribusi mengambil margin sesuai ketentuan, sehingga tidak terjadi kenaikan harga yang tidak wajar maupun potensi penyimpangan distribusi di lapangan.

“Ini akan kami telusuri dari produsen, distributor, sampai pengecer. Rantai distribusinya harus jelas. Tidak boleh ada yang bermain di komoditas kebutuhan pokok masyarakat,” tegasnya.

Related News