Penutupan Selat Hormuz Bisa Guncang Energi-Pangan
Jagad Tani - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah meningkat setelah pengerahan pasukan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) yang melakukan penutupan Selat Hormuz, yang dipicu oleh serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 lalu, yang mengakibatkan gugurnya, Ayatollah Ali Khamenei.
Jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman itu, selama ini dikenal sebagai salah satu urat nadi perdagangan energi dunia, dengan hampir 30% pasokan minyak global melintas di kawasan tersebut.
Baca juga: Konflik Iran-Israel Bayangi Kinerja Ekspor Indonesia
Namun dampaknya tidak hanya terbatas pada sektor energi. Selat Hormuz juga menjadi jalur vital perdagangan pupuk dunia, khususnya pupuk berbasis nitrogen seperti urea, yang merupakan komponen utama dalam produksi pangan global.
Dampak terhadap Perdagangan Indonesia
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Ateng Hartono, menyatakan potensi gangguan terhadap ekspor-impor Indonesia masih perlu dikaji lebih lanjut. Meski demikian, data perdagangan menunjukkan Indonesia memiliki hubungan dagang signifikan dengan negara-negara di sekitar jalur tersebut, yakni Iran, Oman, dan Uni Emirat Arab.
Pada 2025, impor nonmigas Indonesia dari Iran tercatat US$ 8,4 juta, dari Oman US$ 718,8 juta, dan dari Uni Emirat Arab mencapai US$ 1,4 miliar. Sementara dari sisi ekspor nonmigas, Indonesia mengekspor US$ 249,1 juta ke Iran, US$ 428,8 juta ke Oman, dan US$ 4,0 miliar ke Uni Emirat Arab. Komoditas yang terkait sektor pertanian seperti lemak dan minyak hewan/nabati menjadi salah satu penyumbang utama ekspor ke kawasan tersebut.
Jika jalur pelayaran terganggu, arus perdagangan komoditas pertanian dan bahan baku industri berpotensi terdampak, baik dari sisi ekspor maupun impor.
Jalur Vital Perdagangan Pupuk Dunia
Menurut analisis dari Rabobank, kawasan Teluk memiliki peran dominan dalam ekspor pupuk global, terutama urea. Sekitar 45% ekspor urea dunia berasal dari negara-negara Timur Tengah seperti Qatar, Iran, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Setiap bulan, sekitar 3 hingga 3,9 juta ton pupuk dan bahan bakunya dikirim melalui Selat Hormuz, termasuk 1,2-1,5 juta ton urea, 1,5-1,8 juta ton sulfur, serta ratusan ribu ton amonia dan fosfat. Jalur ini sulit digantikan dalam jangka pendek karena sebagian besar pelabuhan ekspor utama di kawasan Teluk bergantung pada rute tersebut.
Rabobank memperingatkan bahwa jika Selat Hormuz ditutup, pasar pupuk nitrogen akan menanggung dampak paling berat. Dalam skenario gangguan penuh, harga urea di Brasil dapat melonjak lebih dari 100% dalam tiga bulan, sementara di India berpotensi naik sekitar 80%. Kedua negara itu merupakan pengimpor pupuk dalam jumlah besar dengan kebutuhan lebih dari 15 juta ton per tahun.
Efek Berantai dari Energi ke Pangan
Selain gangguan distribusi, penutupan Selat Hormuz juga berpotensi memicu lonjakan harga energi. Harga minyak mentah Brent saat ini berada di kisaran US$ 72,8 per barel, namun dalam skenario eskalasi konflik bisa menembus US$ 90 bahkan lebih dari US$ 100 per barel.
Kenaikan harga minyak dan gas akan langsung meningkatkan biaya produksi pupuk nitrogen, karena urea dan amonia sangat bergantung pada gas alam sebagai bahan baku. Dampaknya adalah kenaikan harga pupuk global yang pada akhirnya membebani petani.
Lonjakan harga pupuk juga berisiko meningkatkan beban subsidi di berbagai negara berkembang. Pemerintah yang selama ini menanggung sebagian harga pupuk demi menjaga keterjangkauan bagi petani bisa menghadapi tekanan fiskal lebih besar.
Ancaman terhadap Ketahanan Pangan
Karena pupuk merupakan input utama produksi pertanian, gangguan pada pasokan dan kenaikan harga dapat menurunkan produktivitas panen dan memicu kenaikan harga pangan. Industri pupuk global, termasuk perusahaan seperti Yara International ASA, dilaporkan terus memantau risiko di sekitar Selat Hormuz karena tingginya sensitivitas pasar terhadap gangguan logistik dan energi.
Setiap tahun, perdagangan minyak dan gas senilai lebih dari 500 miliar dollar AS melintasi jalur ini, menurut laporan Al Jazeera. Besarnya nilai perdagangan tersebut menunjukkan betapa krusialnya Selat Hormuz bagi stabilitas ekonomi global, termasuk sistem pangan dunia.
Jika ketegangan berlangsung lama, dampaknya dapat merambat dari sektor energi ke industri pupuk, lalu ke sektor pertanian dan akhirnya ke harga pangan global. Bagi Indonesia, risiko terbesar kemungkinan datang dari kenaikan harga pupuk dan tekanan terhadap subsidi pertanian, yang berpotensi memengaruhi biaya produksi dan harga pangan domestik.
Dengan demikian, ancaman penutupan Selat Hormuz tidak hanya menjadi isu geopolitik dan energi, tetapi juga berpotensi menjadi pemicu tekanan baru terhadap ketahanan pangan global.

