Stok Beras Aman di Tengah Gejolak Geopolitik
Jagad Tani - Di tengah arus geopolitik global yang sedang tidak menentu akibat konflik antara Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memastikan jika stok pangan nasional tetap aman.
Konflik tersebut menyebabkan ditutupnya jalur perdagangan strategis, yaitu Selat Hormuz. Menurut Amran, berdasarkan perhitungan pemerintah, cadangan pangan Indonesia saat ini mampu bertahan hingga sekitar 324 hari atau sekitar 10,8 bulan ke depan.
Baca juga: Isu Lonjakan Harga Ramadan, Pasar Kopro Disidak
"Alhamdulillah setelah kami menghitung kekuatan pangan kita dengan kondisi geopolitik yang memanas, cadangan kita sampai dengan hari ini itu tersedia sampai dengan 324 hari," terang Amran dalam konferensi persnya, Jumat (06/03).
Adapun cadangan tersebut berasal dari berbagai sumber, mulai dari stok beras di Perum Bulog sekitar 3,7 juta ton, stok masyarakat sekitar 12,50 juta ton, dan potensi produksi dari standing crop atau padi yang masih di sawah sekitar 11,73 juta ton.
Ditegaskan oleh Amran, dengan jumlah yang sudah ada tersebut, bukan berarti produksi pangan berhenti, dan akan tetap berjalan secara rutin setiap bulan. Bahkan Per Maret 2026, total ketersediaan beras nasional mencapai 27,99 juta ton.
Dilanjutkan pula jika pada periode Januari hingga Mei 2026, produksi beras tercatat mencapai sekitar 16,92 juta ton, dengan rata-rata produksi bulanan berkisar antara 2,6 hingga 5,7 juta ton.
"Produksi kita terus berjalan setiap bulan antara 2,6 juta sampai 5,7 juta ton. Jadi, insyaallah pangan kita aman," sambungnya.
