Penelitian BRIN, Kayu Raru Berpotensi Turunkan Diabetes
Jagad Tani - Penyakit Diabetes masih menjadi penyakit yang banyak menyerang masyarakat dunia hingga saat ini, termasuk Indonesia. Melihat kondisi itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan alternatif pengobatan yang berangkat dari pengetahuan lokal dengan menggunakan kayu raru (Vatica perakensis).
Selama ini kayu raru memang sudah dimanfaatkan oleh masyarakat Batak sebagai campuran minuman tradisional (tuak) dan dipercaya dapat membantu menurunkan kadar gula darah. Tim peneliti BRIN akhirnya melakukan uji potensi antidiabetes dari ekstrak kulit kayu raru.
Baca juga: Pemanfaatan Biofuel Nyamplung, Percepat Transisi Energi Bersih
Menurut Peneliti Pusat Riset Botani Terapan BRIN, Gunawan Trisandi Pasaribu, ekstrak kayu raru memiliki sifat antioksidan dan berpotensi menghambat aktivitas enzim alfa-glukosidase, enzim yang berperan dalam pemecahan karbohidrat menjadi glukosa.
“Untuk meningkatkan efektivitasnya, ekstrak kulit kayu raru kami kombinasikan dengan karbon aktif berbahan dasar mocaf (tepung singkong termodifikasi) yang berfungsi sebagai pembawa (carrier) zat aktif,” ujar Gunawan dalam keterangan tertulisnya, dikutip Jumat (06/03).
Dilanjutkan bahwa karbon aktif tersebut diproduksi melalui proses pemanasan khusus hingga membentuk struktur berpori sangat halus. Struktur ini diharapkan mampu membawa dan melepaskan senyawa aktif dari ekstrak raru secara lebih efektif di dalam tubuh.
Hasil penelitian Gunawan bersama tim, yang bertajuk “Efek Antidiabetik Ekstrak Kulit Kayu Raru (Vatica perakensis) dan Karbon Aktif Mocaf pada Tikus Diabetes yang Diinduksi Streptozotocin”, dilakukan menggunakan tikus jantan yang diinduksi menjadi diabetes.
Adapun hewan uji tersebut dibagi ke dalam beberapa kelompok, termasuk kelompok kontrol, kelompok yang diberi ekstrak raru tunggal, serta kelompok kombinasi ekstrak raru dan karbon aktif dengan rasio berbeda.
Hasilnya menunjukkan bahwa ekstrak raru tunggal mampu menurunkan kadar gula darah sebesar 21,94%. Sementara itu, kombinasi ekstrak raru dan karbon aktif mocaf menunjukkan penurunan sebesar 18,85% pada rasio 75:25 dan 14,97% pada rasio 50:50.
"Meski rasio 75:25 menunjukkan hasil lebih baik dibandingkan 50:50, secara umum penambahan karbon aktif belum memberikan peningkatan efektivitas yang signifikan dibandingkan ekstrak raru tunggal," terangnya.
Ditambahkan Gunawan, jika penelitian sebelumnya juga membuktikan bahwa ekstrak raru mampu menghambat aktivitas enzim alfa-glukosidase secara in vitro hingga lebih dari 90%. Aktivitas ini diduga berkaitan dengan kandungan senyawa fenolik di dalamnya.
Meski menunjukkan hasil yang menjanjikan, Gunawan mengakui, penelitian ini masih memiliki keterbatasan.
“Analisis farmakokinetik, mekanisme kerja secara rinci, serta aspek keamanan penggunaan masih perlu dikaji lebih lanjut sebelum memasuki tahap uji klinis pada manusia,” ungkapnya.
Gunawan menegaskan, bahwa riset ini menjadi langkah awal yang penting dalam mengangkat kearifan lokal sebagai sumber inovasi obat herbal berbasis sains.
“Ke depan, tim peneliti akan melakukan analisis fitokimia untuk mengidentifikasi senyawa aktif, mengoptimalkan sistem penghantaran zat aktif, serta memperdalam kajian mekanisme kerja dan aspek keamanan,” pungkasnya.
