Kabupaten Cirebon Kembangkan Sorgum untuk Divesifikasi Pangan
Jagad Tani - Pengembangan tanaman sorgum sebagai bagian dari upaya diversifikasi pangan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi petani, didukung oleh Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Cirebon.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon, Deni Nurcahya menyebutkan bahwa, pengembangan sorgum dapat berjalan optimal apabila didukung dengan kepastian pasar bagi hasil panen petani.
Baca juga: Impor Produk Pertanian AS Capai Rp75T
“Bagi petani yang penting itu ada yang membeli hasilnya dan harganya menguntungkan. Kalau pemasarannya ada, petani pasti mau menanam,” kata Deni dalam keterangan resminya, dikutip Jumat (06/03).
Menurutnya, tanaman sorgum memiliki keunggulan karena tidak memerlukan banyak air, sehingga dapat tumbuh di lahan yang relatif kering atau marginal. Dengan karakter tersebut, kata dia, komoditas tersebut berpotensi dikembangkan di berbagai wilayah di Kabupaten Cirebon yang memiliki kondisi lahan serupa.
“Kalau sorgum itu tidak perlu banyak air, jadi lahan yang agak kritis pun masih bisa dimanfaatkan untuk budidaya tanaman ini. Potensi lahan di Kabupaten Cirebon masih cukup luas untuk pengembangan sorgum di masa mendatang," sambungnya.
Selain pengembangan yang dilakukan bersama PT Dirgantara Indonesia, budidaya sorgum juga telah dilakukan oleh petani di wilayah lain di Kabupaten Cirebon. Deni menyebutkan salah satu kawasan yang sudah mengembangkan sorgum berada di Kecamatan Beber melalui program dari pemerintah pusat dan pemerintah provinsi.
“Di Beber sudah ada dari program kementerian dan provinsi, produksinya juga sudah cukup banyak,” katanya.
Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Barat, Erwan Setiawan menyebut, Kabupaten Cirebon menjadi daerah percontohan dalam pengembangan tanaman sorgum di provinsi tersebut. Sebab, sorgum memiliki potensi besar karena merupakan tanaman serealia yang kaya nutrisi, tahan kekeringan, serta dapat tumbuh di lahan marginal.
“Sorgum ini tanaman yang multifungsi. Bijinya bisa menjadi pangan, batangnya dapat dimanfaatkan untuk biomassa atau bioetanol, sedangkan daunnya bisa menjadi pakan ternak,” terang Erwan.
Dilanjutkan oleh Erwan, jika tanaman tersebut juga memiliki efisiensi budidaya, karena dapat dipanen hingga tiga kali dalam setahun.
Pada kegiatan panen sorgum di lahan Satuan Pelayanan UPTD Balai Benih Palawija Plumbon, lahan sorgum seluas sekitar 1,5 hektare diperkirakan menghasilkan sekitar 1,5 ton benih dengan kelas benih dasar yang selanjutnya dapat dikembangkan untuk produksi benih pokok hingga mencakup lahan sekitar 150 hektare.
Bahkan Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia mengatakan pihaknya berkomitmen mendukung pengembangan sorgum melalui penerapan teknologi pengolahan hasil pertanian, serta menjelaskan pemanfaatan sorgum yang juga dapat diolah menjadi biomassa atau bahan baku energi setelah melalui proses pengolahan.
“Kami ingin menginjeksi teknologi dalam pengolahan sorgum sehingga memberikan nilai tambah bagi para petani. Kami menjajaki kerja sama teknologi pengolahan pangan dengan mitra dari China untuk mendukung pengembangan produk turunan sorgum di Jawa Barat,” pungkasnya.
