Faktor Pendorong Beralihnya Pertanian Konvensional ke Organik
Jagad Tani - Ada dua faktor utama yang mendorong banyak petani mulai beralih ke sistem pertanian organik dan praktik pertanian berkelanjutan, yakni kesehatan tanah dan kesuburan tanah.
Hal tersebut diungkapkan oleh Bupati Blora, Dr. H. Arief Rohman, dan menjelaskan bahwa, bertani secara organik juga mampu menekan biaya produksi, sehingga dapat memberikan keuntungan lebih bagi petani dalam jangka panjang.
Baca juga: Harga Daging Sapi di Kupang Capai Rp120.000/Kg
Menurutnya, produk pangan yang diproduksi secara organik memiliki sejumlah keunggulan, diantaranya umur simpan yang lebih lama dibandingkan tanaman yang diproduksi secara konvensional. Selain itu, praktik pertanian organik juga dinilai mampu menjaga kesehatan dan kesuburan tanah.
Bahkan pengembangan pertanian organik di wilayah Kabupaten Blora, menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani. Salah satunya lewat produksi beras organik yang digerakkan oleh petani milenial di Desa Sumber, Kecamatan Kradenan.
Setelah menerima kiriman beras organik varietas Mentik Susu dari petani milenial yang tergabung dalam Asosiasi Petani Organik Selaras Alam Sejahtera di Desa Sumber. Beras tersebut merupakan hasil budidaya pertanian organik yang dikembangkan secara berkelanjutan oleh para petani muda setempat.
“Alhamdulillah, saya mendapat kiriman istimewa berupa beras organik varietas Mentik Susu dari petani milenial di Desa Sumber. Terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya atas semangat dan dedikasi mereka dalam mengembangkan pertanian organik di desa,” ujar Arief Rohman dalam keterangannya, dikutip Senin (09/03).
Arief Rohman juga mengaku telah mencoba beras tersebut setelah dimasak menjadi nasi. Ia menilai kualitasnya sangat baik.
“Setelah dimasak, nasinya terasa pulen dan enak. Saya selalu mendukung program padi organik seperti ini. Keren sekali petani milenial Desa Sumber,” ungkapnya.
Salah satu petani organik Desa Sumber, Rakam, mengaku semakin bersemangat mengembangkan budidaya padi organik. Menurutnya, dukungan dari pemerintah daerah menjadi motivasi besar bagi para petani, khususnya generasi muda.
“Kami merasa lebih semangat menanam padi organik, apalagi Pak Bupati sangat mendukung program ini dan siap membantu jika ada kendala saat musim tanam maupun panen,” ujar Rakam.
Ia menjelaskan, pada awalnya biaya bertani secara konvensional memang terlihat lebih murah dibandingkan pertanian organik. Hal tersebut karena dalam praktik pertanian organik membutuhkan tenaga kerja yang lebih banyak.
“Sebenarnya biaya bertani secara konvensional saat ini memang terlihat lebih murah dibandingkan dengan pertanian organik. Pada pertanian organik, biaya sering terasa lebih mahal karena kebutuhan tenaga kerja yang lebih banyak,” jelasnya.
Namun demikian, jika dilihat dari bahan bakunya, menurut Rakam pertanian organik justru lebih hemat karena memanfaatkan bahan alami yang tersedia di lingkungan sekitar.
“Kalau dari bahan bakunya, pertanian organik sebenarnya lebih murah dibandingkan pertanian konvensional. Ke depannya biaya bertani organik juga akan semakin murah, karena bahan organik di dalam tanah atau di sawah sudah terakumulasi,” tambahnya.
Ia menuturkan, dalam jangka panjang petani tidak lagi membutuhkan banyak tambahan bahan organik dari luar lahan. Petani cukup memanfaatkan jerami sisa panen yang dikembalikan ke sawah sebagai sumber bahan organik alami.
“Dengan begitu, jerami hasil panen bisa dikembalikan ke lahan sehingga tanah semakin subur dan kebutuhan pupuk dari luar semakin berkurang,” kata Rakam.
Untuk pemupukan, lanjut Rakam, petani memasukkan kompos yang sudah diolah saat proses pengolahan lahan. Dengan bantuan traktor, kompos tersebut dapat tercampur dan merata di seluruh lahan sawah.
Pemupukan susulan juga dilakukan saat kegiatan osrok, yakni ketika petani melakukan penyiangan atau pembersihan gulma yang kedua. Dalam satu musim tanam, petani melakukan kegiatan osrok setidaknya sebanyak empat kali.
“Kami melakukan setidaknya empat kali osrok, yaitu membersihkan gulma sebanyak empat kali selama masa budidaya.Harapan kami setelah panen nanti bisa memiliki pengering dan penggiling padi sendiri. Selama ini kami masih menggunakan selepan umum yang juga digunakan untuk padi konvensional, sehingga kadang beras organik bisa tercampur dengan beras biasa,” tukas Rakam.
Beras organik Mentik Susu yang diproduksi petani milenial Desa Sumber dijual dengan harga Rp20 ribu per kilogram dan dipasarkan dalam kemasan 2 kilogram. Produk tersebut juga dipasarkan secara daring melalui media sosial untuk menjangkau konsumen lebih luas.
