• 14 March 2026

Kolak Pisang, Senjata Dakwah Sejak Zaman Walisongo

uploads/news/2026/03/kolak-pisang-senjata-dakwah-77458999d7e5582.jpeg

Jagad Tani - Kolak pisang selama ini dikenal sebagai salah satu makanan tradisional yang identik dengan bulan Ramadan di Indonesia. Hidangan manis berbahan dasar pisang, santan, dan gula ini kerap menjadi menu berbuka yang banyak dijual di pasar takjil maupun dibuat di rumah-rumah.

Namun tahukah kamu Sahabat Tani, ternyata di balik rasanya yang manis dan gurih tersebut, tenyata kolak pisang ini menyimpan sejarah panjang serta mempunyai makna filosofis yang berkaitan dengan penyebaran Islam di Pulau Jawa.

Baca juga: Memoles Tempe Busuk Jadi Hidangan Oblok-Oblok

Kolak dipercaya telah ada sejak berabad-abad lalu. Sebelum populer sebagai takjil khas Ramadan, hidangan ini dikenal sebagai sajian penutup yang sering dihidangkan dalam berbagai pertemuan warga atau kenduri pada masa Kesultanan Demak hingga Mataram Islam sekitar abad ke-15.

Dilansir dari Laman Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, kolak dikaitkan dengan metode dakwah para Wali Songo. Sembilan tokoh penyebar Islam di Jawa tersebut dikenal menggunakan pendekatan yang lembut dan menyesuaikan diri dengan tradisi masyarakat setempat.

Melalui pendekatan budaya, makanan yang telah akrab di kalangan masyarakat dimanfaatkan sebagai media untuk menyampaikan nilai-nilai keislaman. Kolak pun menjadi salah satu contoh bagaimana ajaran Islam diperkenalkan tanpa menimbulkan penolakan, melainkan melalui simbol dan makna yang mudah diterima masyarakat.

Secara etimologi, istilah kolak diyakini berasal dari bahasa Arab, yaitu khaliq yang berarti Sang Pencipta atau Tuhan. Ada pula yang mengaitkannya dengan kata khala yang bermakna kosong atau suci. Makna tersebut diartikan sebagai ajakan bagi manusia untuk mendekatkan diri kepada Tuhan sekaligus membersihkan diri, terutama pada bulan Ramadan.

Bukan cuma dari namanya yang mempunyai makna mendalam ya Sahabat Tani, makna filosofis lainnya juga tersimpan pada bahan-bahan yang digunakan di kolak. Pisang kepok yang menjadi bahan utama kerap dimaknai sebagai simbol “kapok” atau jera, yang mengingatkan manusia untuk bertaubat dan tidak mengulangi kesalahan.

Selain pisang, beberapa variasi kolak juga menggunakan ubi atau singkong. Dalam bahasa Jawa, umbi-umbian ini sering disebut telo pendem, yang secara simbolis dimaknai sebagai ajakan untuk “mengubur” kesalahan dan sifat buruk di masa lalu.

Sementara itu, kuah santan dalam kolak memiliki makna tersendiri. Dalam bahasa Jawa, santan sering dihubungkan dengan ungkapan pangapunten yang berarti permohonan maaf. Pesan moral yang ingin disampaikan adalah pentingnya saling memaafkan, baik kepada sesama manusia maupun kepada Tuhan.

Seiring berjalannya waktu, kebiasaan masyarakat menyantap kolak, terutama saat berbuka puasa, berkembang menjadi tradisi yang menyebar ke berbagai daerah di Indonesia. Resepnya pun diwariskan secara turun-temurun dengan berbagai variasi bahan tambahan seperti kolang-kaling, ubi, hingga labu.

Kini, kolak pisang bukan hanya sekadar hidangan penutup atau takjil Ramadan nih Sahabat Tani. Lebih dari itu, makanan tradisional ini menjadi simbol kehangatan, kebersamaan keluarga, serta pengingat akan nilai-nilai spiritual yang diwariskan melalui budaya kuliner Nusantara.

Related News