• 14 March 2026

Bingka Khas Banjar, Jadi Buruan Takjil Ramadan

uploads/news/2026/03/bingka-khas-banjar-jadi-639681214ba2859.jpeg

Jagad Tani - Kue bingka menjadi salah satu sajian takjil yang selalu hadir dan banyak diburu masyarakat saat bulan Ramadan di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Kue tradisional khas Banjar ini dikenal dengan rasa manis dan teksturnya yang lembut, sehingga cocok disantap sebagai makanan untuk berbuka puasa.

Menurut salah seorang warga Banjarmasin, Nina, mengatakan bahwa bingka sudah lama menjadi pilihan takjil favorit masyarakat setempat. Menurutnya, kue ini biasanya dijual dalam berbagai ukuran dengan harga yang relatif terjangkau.

Baca juga: Memoles Tempe Busuk Jadi Hidangan Oblok-Oblok

“Kalau bingka kecil biasanya dijual sekitar Rp1.000 sampai Rp2.000. Dulu di kampung-kampung masih ada yang Rp1.000, tapi zaman sekarang kebanyakan sudah Rp1.500 sampai Rp2.000 tergantung bahannya juga,” ujar Nina saat dihubungi Jagad Tani Via telpon, Senin pagi (09/03).

Ia menjelaskan bahwa bahan utama bingka umumnya berasal dari kentang, tepung, telur, santan, dan gula. Perbandingan bahan tersebut juga memengaruhi harga jualnya.

“Kalau lebih banyak tepung biasanya lebih murah, tapi kalau kentangnya lebih banyak biasanya sedikit lebih mahal, bisa sekitar Rp2.000 sampai Rp2.500,” katanya.

Selain ukuran kecil, bingka juga tersedia dalam ukuran besar yang biasanya dijual dalam loyang dengan harga sekitar Rp45.000 hingga Rp50.000 untuk kualitas yang baik.

Menurutnya, selama Ramadan permintaan bingka meningkat cukup signifikan. Namun, yang paling banyak diminati biasanya adalah bingka berukuran besar dengan bentuk khas menyerupai bunga.

“Kalau bulan puasa memang ramai, tapi biasanya yang lebih dicari itu bingka yang besar, yang bentuknya bunga,” jelasnya.

Bingka biasanya langsung disantap tanpa tambahan apa pun. Meski begitu, terdapat beberapa varian rasa yang populer di masyarakat Banjar, seperti bingka kentang, bingka gula habang, dan bingka pandan.

Salah satu varian yang tergolong spesial adalah bingka tape hijau. Nina menyebutkan varian ini cukup unik dan jarang ditemukan di daerah lain. “Yang spesial itu bingka tape hijau. Tape-nya dari daun katuk yang dicampur dengan beras ketan, itu jarang ada,” terangnya.

Dari segi rasa, bingka umumnya memiliki cita rasa manis, meskipun tingkat kemanisannya bisa berbeda tergantung penjual. Selain itu, penggunaan telur juga memengaruhi rasa.

“Kalau pakai telur ayam rasanya lebih biasa, tapi kalau telur bebek rasanya lebih gurih walaupun sedikit lebih amis,” kata Nina.

Keberagaman rasa serta bentuknya membuat bingka tetap menjadi salah satu kuliner tradisional yang bertahan dan digemari masyarakat ya Sahabat Tani, terutama sebagai hidangan takjil saat Ramadan di Kalimantan Selatan.

Related News